Tadi malam, Kamis, 24 Januari 2008, aku menyaksikan acara Padamu Negeri di Metro TV. Dan malam itu, tema yang diangkat adalah mengenai aliran yang dianggap sesat mengapa semakin merebak. Acara yang dipandu oleh Deddy ‘Miing’ Gumelar itu menghadirkan Usman Hamid dari Kontras dan Bapak Anton Bahrul Alam dari kepolisian. Sedangkan untuk panelnya, dihadirkan tiga kelompok. Yaitu kelompok Aliansi Kebebasan untuk Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), kelompok Mahasiswa dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dan masyarakat umum.

Dari apa yang disajikan pada malam itu, aku melihat memang tidak ada titik temu antara kelompok AKKBB dengan kelompok mahasiswa dan masyarakat umum, yang sepertinya didominasi oleh kaum Muslim yang tidak setuju dengan berkembangnya aliran-aliran yang dianggap sesat di Indonesia. Jelas, AKKBB mendukung kebebasan berkeyakinan yang merupakan hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya yang tidak bisa diganggu-gugat dan merupakan hak azasi manusia, termasuk juga kebebasan menyebarkan ajarannya itu sejauh tidak terjadi pemaksaan dan aksi kekerasan. Sedangkan pihak mahasiswa dan masyarakat umum tidak menyetujui dengan adanya kebebasan berkeyakinan yang memiliki tafsir sendiri terhadap Kitab-kitab Suci yang telah ada dan menjadi pegangan suci kaum beragama yang dianggap sudah mapan. Dan pernyataan diri sebagai Rasul, Nabi atau Utusan Tuhan setelah Nabi Muhammad dianggap sebagai sebuah kesesatan yang harus diurusi oleh pemerintah.

Bagiku, apa yang terjadi di forum malam itu adalah sebuah realita, ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukung. Hanya saja, aku sedikit menyayangkan pernyataan Deddy Gumelar sebagai pembawa acara yang pada closing statement-nya yang menyatakan bahwa kebebasan beragama, sejauh tidak menyinggung pemahaman agama yang sudah ada, maka hal itu tidak dipermasalahkan.

Aku hanya tercenung mendengarkan pernyataan mengenai ‘tidak menyinggung pemahaman agama yang sudah ada’. Bagiku, bila memang kita tidak sependapat dengan keyakinan seseorang, selama tidak ada penyerangan atau perusakan yang terjadi pada diri kita, mengapa harus merasa terganggu? Karena perbedaan tafsir atas teks-teks yang dianggap suci niscaya menjadi sebuah keniscayaan yang akan terjadi selama peradaban manusia sepanjang masa. Selama manusia masih berpikir, selama bumi berputar dan persoalan manusia selalu datang dengan berbagai permasalahan yang lebih kompleks, niscaya teks-teks suci akan mengalami penafsiran ulang. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan akan menurunkan lagi Utusan-utusan-Nya untuk memberikan tuntunan dan petunjuk kepada umat manusia pada masa yang berbeda.

Maka untuk apa merasa terganggu dengan keyakinan yang berbeda? Aku rasa dengan memantapkan iman dan kesungguhan seseorang dengan keyakinan yang ia miliki, selama ia merasa yakin sepenuhnya atas kebenaran keyakinannya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru bila seseorang merasa terganggu dengan keyakinan orang lain, harus dipertanyakan kualitas keteguhan keimanannya. Atau jangan-jangan hati nuraninya lebih cocok dengan keyakinan yang lain? Semua terpulang kepada masing-masing individu.

Bagiku, akan lebih enak untuk tetap jujur terhadap hati nurani kita masing-masing. Dan menyadari bahwa Tuhan dapat menurunkan Kebenaran-Nya melalui siapa saja dan apa saja, dan meneguhkan diri dalam setiap pilihan iman yang kita pilih, akan membuat hidup lebih nyaman berada di tengah keberagaman iman dan keyakinan di muka bumi ini. Dan dialog yang terjadi di antara orang-orang yang berkeyakinan bukanlah untuk saling mempengaruhi dan mengajak orang untuk beralih keyakinan, namun lebih kepada sharing pengalaman atas keimanan yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap manusia yang berujung pada saling menghargai dan mencerahkan.

Kapankah kondisi itu akan terwujud? Entah kapan, namun aku yakin masa itu akan tiba. Niscaya …