Telah cukup lama aku tidak mengunjungi Mas Rachman di LP Cipinang. Terakhir bertemu Mas Rachman adalah ketika mengunjunginya bersama dengan Paduka Bunda dan kaum Eden lainnya. Namun pada hari Senin (18/2) ini, aku mendapatkan kesempatan untuk dapat menjenguk Mas Rachman di LP bersama dengan Lilik. Hadir pula Malik dari Garda Kemerdekaan yang sudah menunggu di LP untuk turut menjenguk Mas Rachman.
Mas Rachman terlihat baik dan sehat setelah 1,5 bulan di dalam penjara, walaupun penyakit seperti flu dan ambeyen masih menjadi bagian dari kesehariannya. Sampai saat ini, Mas Rachman masih berada di dalam blok isolasi dan belum ada tanda-tanda atau kabar bahwa Mas Rachman akan dipindahkan ke blok lain.
Walaupun di dalam penjara, ternyata Mas Rachman sangat well-informed, bahkan mungkin lebih banyak kabar yang diketahui Mas Rachman daripada aku sendiri. Karena selain Mas Rachman dikunjungi secara rutin oleh kaum Eden yang mengantarkan makanan untuknya, Mas Rachman pun dapat menggunakan wartel yang dapat digunakan di dalam LP bila ada keperluan untuk menghubungi seseorang. Jadi, aku lebih banyak mendengarkan cerita dari Mas Rachman daripada menyampaikan kabar-kabar terbaru yang ternyata sudah tidak baru lagi bagi Mas Rachman.
Mas Rachman menceritakan bahwa upaya untuk meng-Islam-kannya sebagaimana yang pernah disampaikan sebelumnya, yang dilakukan oleh salah seorang ustadz yang sama-sama menghuni blok isolasi, kini sudah terasa mulai mereda. Perbincangan atau diskusi kadang masih terjadi, namun sudah tidak dalam suasana akan ada usahanya untuk merubah sebuah keyakinan. Perbincangan yang terjadi lebih sebagai sharing untuk memahami posisi dan pilihan masing-masing.
Menjadi Teman Curhat Sesama Tahanan
Berada di blok isolasi membawa Mas Rachman berada dalam situasi untuk selalu berhadapan dengan orang-orang yang baru masuk ke dalam penjara. Dan pada umumnya, orang yang baru masuk penjara itu biasanya merasa tegang dan memiliki banyak pikiran yang membuat mereka menjadi stres dan membutuhkan seseorang untuk berbagi masalahnya. Di sanalah Mas Rachman melihat sebuah hikmah yang lain dalam Kehendak Tuhan yang memasukkannya ke dalam penjara, yaitu menjadi teman bagi tahanan yang lain untuk berbagi masalah dan persoalan mereka.
Masalah-masalah yang dihadapi tahanan yang baru masuk pun beragam. Ada yang bingung memikirkan akan dicerai oleh istrinya, ada yang bingung memikirkan anaknya yang sakit, ada yang bingung memikirkan bagaimana mengawasi anaknya dengan pergaulannya sehari-hari, ada yang bingung memikirkan bagaimana nafkah untuk keluarganya, dan lain sebagainya. Dan kepada Mas Rachman-lah mereka membagi beban yang dirasakannya.
Sebagai pendengar dan teman yang baik, Mas Rachman pun menyampaikan bahwa sungguh tidak ada yang bisa dilakukan oleh seseorang yang berada di dalam penjara selain memasrahkan apa pun yang akan terjadi kepada keluarganya. Maka yang bisa dilakukan oleh mereka hanyalah berusaha selalu berpikiran positif dan menjadikan energi positif yang dihasilkan turut memberikan efek yang positif pula kepada kerabat yang berada di luar. Karena dengan mendengar bahwa seseorang yang dipenjara itu terlihat tenang, pasrah dan tetap optimis dalam menjalani hidup walaupun berada di dalam penjara, niscaya ketenangan itu akan turut menenangkan segala kemelut atau masalah yang terjadi di dalam keluarga.
Sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al Ashr dari Kitab Suci Al Quran, sesungguhnya manusia itu niscaya di dalam kerugian. Maka adalah lebih baik bila seseorang itu selalu berpikir positif pada setiap saat dalam kehidupannya. Dan bagi Mas Rachman dan teman-temannya yang saat ini sedang dipenjara, dengan selalu berusaha menunjukkan ketenangan dan kepasrahan, diharapkan hal itu pun dapat mengurai segala hambatan atau masalah yang terjadi, baik di dalam penjara maupun kepada keluarganya di luar penjara.
Masa Depan adalah Hari Ini
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang sempat bertanya bagaimana dengan masa depannya karena pernah dipenjara yang menurutnya akan membawa dampak buruk baginya. Mendengar pertanyaan itu, Mas Rachman memberikan nasihat bahwa sesungguhnya tidak perlu malu berada dipenjara. Karena sesungguhnya pemenjaraan adalah sebuah proses pensucian dimana seseorang telah menebus kesalahannya. Dan pensucian yang telah dilewati niscaya akan lebih membawa ketentraman. Namun itu pun terpulang dengan bagaimana memaknai pemenjaraan itu sendiri. Bila memaknainya sebagai sebuah peristiwa yang penuh hikmah dan sarat akan pelajaran, niscaya kebaikan yang akan dihasilkan. Demikian pula sebaliknya.
Dan mengenai masa depan, Mas Rachman menyatakan bahwa sesungguhnya hal itu tidak perlu dikhawatirkan dan terlalu dipikirkan. Karena masa depan itu adalah bagaimana kita memaknai hari ini. Bilamana pada hari ini yang ada di dalam hati dan pikiran kita adalah kebahagiaan dan keoptimisan, maka sesungguhnya itulah masa depan bagi diri kita. Sedangkan sebaliknya, bila yang ada adalah kekesalan dan kekemrungsungan di dalam hati, maka masa depan yang suram niscaya telah menanti.
Itulah yang menjadi bagian dari keseharian Mas Rachman di dalam penjara, yaitu menjadi teman curhat bagi mereka-mereka yang membutuhkan. Bahkan Mas Rachman mengisahkan bahwa orang-orang yang datang kepada Mas Rachman sebelumnya telah sempat mencurahkan segenap isi hatinya kepada teman-teman tahanan di musholla yang kemudian disarankan agar menemui Mas Rachman untuk dapat membantu menyelesaikan persoalannya.
Bagi Mas Rachman sendiri, berada di dalam penjara membuatnya merasa lebih bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Ia dapat membantu meringankan beban teman-teman sesama tahanan, baik itu beban secara mental dengan sharing sebagaimana yang dikisahkan di atas ataupun dengan membantu mengobati dan menerapi tahanan yang sakit.