Februari 25, 2008
Merasakan Kehadiran Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari
Posted by Wahyu Andito under Eden, keyakinan, sumpah | Tag: Eden, kebahagiaan, keyakinan |Bagiku sendiri, diperkenankan Tuhan menjadi bagian dari Komunitas Eden adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Aku sendiri tak pernah bermimpi akan menjadi bagian dari sebuah komunitas yang sangat mengedepankan kejujuran dan kesetiaan yang tulus dan murni seperti ini. Sungguh tak ada yang lain di dalam keseharian ke Eden selain ketulusan dan keikhlasan yang ditunjukkan oleh seluruh Komunitas Eden.
Bagiku sendiri, Eden telah menjadi terminal akhir pencarianku. Segenap hati, pikiran dan jiwaku niscaya akan kucurahkan demi menjalankan apa-apa yang diamanatkan Tuhan melalui Malaikat Jibril-Ruhul Kudus di Eden. Mengapa aku berani menyatakan itu? Karena sungguh tidak ada keraguan bahwa Tuhan-lah yang telah berkarya melalui Eden demi menyatakan segala Kehendak-Nya yang sedang diwujudkan-Nya di seluruh dunia.
Dan salah satu hal yang membuatku merasa inilah jalan yang harus kupilih adalah dengan merasakan Kehadiran Tuhan di dalam keseharianku. Dulu, sepertinya Tuhan itu hanya hadir saat kita menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan kita. Bahkan, dengan menjalankan ibadah di dalam rumah-rumah ibadah, diyakini bahwa kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan di sana. Namun kini, di mana pun aku berada, sungguh aku merasakan Tuhan hadir dan mengawasi setiap gerak-gerikku.
Sungguh bagiku hal itu sangat membahagiakan. Sangat membahagiakan. Mengapa? Karena aku selalu berpikir dua-tiga kali bahkan lebih bila sedang akan mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Pertimbangan itu adalah apakah Tuhan setuju dengan keputusan yang kuambil. Misalnya bila aku ingin pergi naik motor, walaupun jarak dekat, aku tidak pernah berani membawanya tanpa mengenakan helm dan membawa STNK. Segala pelanggaran yang dianggap kecil dan dianggap tidak apa-apa bila dilanggar itu, tak pernah berani kulakukan lagi. Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Karena aku sungguh-sungguh dapat merasakan bagaimana Tuhan marah dan menegurku dengan keras bila aku melakukan pelanggaran itu, apalagi dengan sengaja. Tidak sengaja saja pasti ada balasannya, apalagi sengaja… bisa berkali-kali lipat.
Mungkin itulah yang disebut sebagai tuah dan tulah dari sebuah sumpah yang diucapkan. Sumpah untuk tidak menyentuh dosa sekecil apa pun lagi dan bersedia Tuhan untuk mencabut nyawaku bila aku melanggarnya, membuat setiap kelalaian yang kulakukan senantiasa mendapatkan balasan dengan segera. Karena sungguh lebih baik Tuhan mencabut nyawaku bila kelalaian yang kulakukan akan menodai Surga dan Kerajaan-Nya yang maha kudus ini.
Sungguh aku adalah manusia biasa. Lalai dan lupa kadang terjadi walau tak pernah kuniatkan. Dan karena Tuhan Maha Baik sematalah bila sampai saat ini aku masih hidup dan diperkenankan berada di Eden. Oleh karena itu, aku dengan ikhlas menerima rasa sakit atau kesialan yang diberikan Tuhan kepadaku sebagai balasan atas kelalaian yang kulakukan. Dan ketika hal itu menghampiri, introspeksi selalu menjadi langkah selanjutnya yang wajib kulakukan. Karena tidak lain semua penderitaan yang terjadi itu adalah karena perbuatanku sendiri.
Serasa hidup menjadi berat ya karena selalu merasa was-was mendapatkan Teguran Tuhan karena tak sengaja melakukan pelanggaran? Pada awalnya mungkin akan merasa seperti itu, namun setelah merasakan efek lain dari itu, maka keputusan untuk bersumpah sekeras yang pernah kupanjatkan kepada Tuhan di atas menjadi sebuah hal yang sangat patut kusyukuri. Karena apa? Karena aku sangat berbahagia dengan Rahmat-Nya yang berdatangan di dalam keseharianku.
Sungguh tak bisa kurinci satu demi satu rahmat apa yang telah kuterima selama ini karena takkan pernah dapat terhitung. Tapi yang paling kurasakan adalah rasa bahagia dan bersyukur yang sangat besar di dalam memperoleh hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi di hadapanku. Tak dapat kupungkiri bahwa kadang ada rasa resah atau gelisah yang mendera. Namun setiap kesadaranku menyatakan bahwa segala rasa yang tidak enak itu adalah akibat kesalahanku sendiri, maka yang hadir kemudian adalah introspeksi, mencari hikmah di balik setiap peristiwa yang sedang kuhadapi, dan rasa bahagia dan tentram itu kembali memenuhi segenap jiwa dan ragaku. Dan aku kembali merasa bersyukur atas apa-apa yang telah Tuhan berikan padaku, apa pun itu, kesulitan atau kebaikan selalu berusaha kuterima dengan rasa syukur. Dan hikmah yang tersingkap di baliknya itulah yang membuatku takkan pernah ingin berpaling dari takdir ini. Amin.