Melihat siaran berita di televisi tentang hebohnya peredaran film ‘Fitna’, membuat aku pun jadi penasaran atas apa yang ada di dalam film tersebut, yang katanya telah menyulut kemarahan umat Islam. Biasanya, umat Islam suka tersinggung ketika Nabi Muhammad-lah yang menjadi obyek dari sebuah karya. Namun kali ini tidak ada kabar mengenai adanya gambar atau sesuatu dari Nabi Muhammad yang dimuat. Jadi apa yang membuat umat Islam menjadi marah karena film itu?

Searching-searching di internet, sampailah aku di Youtube. Dengan kata kunci ‘Fitna’, tampillah beberapa versi film ‘Fitna’ dengan berbagai terjemahannya. Aku mencoba melihat film tersebut dengan subtitle berbahasa Inggris (karena edisi teks bahasa Indonesia sepertinya belum ada).

Melihat bagian pertama dari film yang berisi cuplikan-cuplikan peristiwa yang berkaitan dengan kejahatan terorisme yang dilakukan oleh sebagian umat Islam itu, jujur saja aku tidak dapat melanjutkan menontonnya pada adegan dimana ada seorang tawanan yang dipenggal lehernya dengan menggunakan sebilah golok, yang kemudian kepala tersebut diangkat untuk diperlihatkan … Wuih, aku langsung pusing dan mematikan window film tersebut dan melanjutkan pekerjaan yang lain. Sungguh sebuah adegan kekerasan yang sangat kejam!

Tapi aku merasa harus menyaksikan film itu seutuhnya. Karena bila hanya melihat sepotong-sepotong, tentunya tak baik untuk memberikan sebuah kesimpulan. Karena sang pembuat film, Geert Wilders, niscaya memiliki pesan yang ingin disampaikannya daripada sekedar mengekspos ayat-ayat Al Quran yang ‘mengizinkan’ umat Islam untuk menzalimi umat yang lain dan menunjukkan fakta-fakta lapangan berupa cuplikan-cuplikan film dokumenter tentang aksi terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia, ataupun kliping-kliping koran yang memberitakan mengenai hal-hal yang dikehendaki oleh umat Islam di beberapa tempat di negara lain.

Setelah menonton seluruh film yang berdurasi +/- 16 menit tersebut, sejujurnya aku tak bisa berkomentar apa-apa selain memanjatkan doa di dalam hati kepada Tuhan agar Tuhan berkenan menjaga dunia ini dari peperangan dunia yang sepertinya sudah di depan mata.

Betapapun, hal ini pernah disampaikan oleh Ruhul Kudus baik di dalam Risalah-risalahnya maupun di dalam pengajaran pengkajian pada Majelis Kerasulan di hari Sabtu, bahwa dunia ini sedang berada di ambang peperangan dunia yang akan mendatangkan kiamat akibat perang nuklir yang dimungkinkan terjadi. Namun aku sungguh tak menyangka bahwa hal itu bisa tersulut oleh sebuah karya film yang tersebar luas ke seluruh dunia melalui media internet.

Tak juga bisa disalahkan bila Geert Wilders membuat film itu karena ia mengkhawatirkan ideologi Islam yang sangat identik dengan kekerasan akan mendominasi negaranya yang menjunjung kebebasan dan demokrasi. Namun siapalah yang tidak akan tersinggung ketika keyakinannya diekspos dengan cara sedemikian.

Tapi nasi telah menjadi bubur. Film telah beredar, masyarakat pun telah memberikan reaksi yang beragam. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pun telah menyatakan pelarangan penyebaran film tersebut. Sekjen PBB Ban Ki Moon pun telah melarang peredaran film tersebut. Dan hanya kepada Tuhan kita semua berlindung dari segala kejahatan iblis yang sedang merasuki orang-orang yang memperturutkan ambisi dan hawa nafsunya, untuk alasan apa pun. Dan memang kehancuran total seluruh dunia inilah yang menjadi tujuan utamanya.

Aku berharap, umat Islam dapat menyikapi film tersebut dengan kepala dingin. Betapapun, tak dapat disangkal bahwa apa yang disajikan dalam film itu adalah sebuah fakta yang terjadi di belahan dunia yang lain. Maka, bila umat Islam tidak setuju dengan peredaran film itu, tunjukkanlah dengan menampilkan citra ajaran Islam yang penuh damai dan toleran. Masih banyak ayat-ayat di dalam Kitab Suci Al Quran yang mengedepankan toleransi dan perdamaian.

Semoga suara umat Islam yang menghendaki perdamaian yang seutuhnya dengan seluruh umat manusia di dunia ini lebih mendominasi sehingga menjadikan bumi yang sudah gersang oleh kebencian ini menjadi damai dan penuh cinta dan kasih. Amin.