Beberapa hari yang lalu, aku kembali mengirimkan Risalah-risalah Ruhul Kudus yang ditujukan untuk para anggota DPR. Beberapa alamat mereka tertuju pada rumah jabatan masing-masing di Komplek DPR Kalibata. Melihat alamat-alamat mereka, memang harap-harap cemas, sepertinya akan banyak yang kembali nih, mengingat masa jabatan mereka sudah akan berakhir karena pemilu 2009 sudah di depan mata.

Ternyata benar. Lebih dari 90 paket risalah kembali. Tapi itu memang risiko pengiriman, apalagi kepada alamat-alamat yang belum pernah dikirimkan sebelumnya.

Tapi yang sangat kusayangkan adalah perilaku petugas pos terhadap dokumen-dokumen Eden yang kembali. Pembungkus plastiknya dirobek dengan serampangan agar petugas dapat memberikan cap sebagai tanda bahwa dokumen itu kembali. Dan itu dilakukan terhadap semua dokumen yang kembali, yang kebetulan beralamat di rumah jabatan DPR di daerah Kalibata.

Aku tak mau berprasangka buruk. Mungkin memang demikian cara petugas pos memperlakukan dokumen yang berplastik. Maka pagi ini aku menyempatkan diri berkunjung ke Kantor Pos Pusat untuk bertemu dengan Ibu Euis di bagian pelayanan, yang menjadi kenal dekat sejak beberapa pengiriman terakhir di Kantor Pos Pusat.

Melihat dokumen yang kubawa, Bu Euis juga terlihat terkejut dengan perlakuan yang terjadi terhadap dokumen yang kubawa. Aku sengaja membawa beberapa dokumen, supaya Bu Euis juga bisa membayangkan bagaimana mirisnya hati bila melihat lebih dari 90 dokumen mendapat perlakuan yang sama, sedangkan kami membuat dokumen itu, mulai dari kertas sampai amplopnya dengan sepenuh hati.

Bu Euis pun dapat menerima apa yang kuadukan kepadanya. Dan beliau menyatakan akan menindaklanjutinya.

Dan pada hari ini pun ada beberapa dokumen yang kembali, karena pemilik rumah sudah pindah. Tapi perlakuannya terhadap dokumen itu sungguh berbeda. Plastik tidak dirobek, cap ditempatkan pada kertas sticker yang bisa dicap. Jauh lebih baik dan sopan, walaupun cara mencoretnya sepertinya sudah menjadi kebiasaan, coret sesukanya saja tanpa mempertimbangkan estetika amplop dari dokumen yang dipegangnya.

Jadi, sepertinya ini adalah persoalan personal petugas pos saja, bukan perilaku petugas pos secara keseluruhan. Aku berharap pelayanan kantor pos akan semakin baik dan profesional ke depannya. Amin.