Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran atau STIP, merupakan sebuah institusi yang pernah kudengar, khususnya waktu aku baru lulus dari TN (sudah hampir 8 tahun yang lalu…). Aku pernah melihat beberapa siswanya (atau mahasiswanya) dengan atribut seragamnya. Pikirku, pasti akan sangat membangun saat negara membuat banyak sekolah berasrama, apalagi bila berbeasiswa penuh sebagaimana TN dahulu, untuk mencetak kader-kader penerus bangsa yang kompeten dan profesional di bidangnya. Apalagi bidang pelayaran, pasti akan sangat dibutuhkan melihat Indonesia ini luas wilayahnya didominasi oleh lautan yang sangat membutuhkan sumber daya manusia.

Tapi melihat tayangan siang tadi di Buletin Siang RCTI tentang rekaman acara penyiksaan yang dilakukan oleh senior terhadap junior di STIP, betul-betul sebuah kezaliman yang sangat nyata.

Sebagai seseorang yang pernah bersekolah di asrama penuh sebagaimana TN, aku melihat memang perlu ada tindakan keras dalam menegakkan disiplin. Namun tentu sanksi atau tindakan itu diberikan saat ada kesalahan yang dilakukan. Namun yang terjadi di STIP, sebagaimana rekaman melalui HP yang ditayangkan, betul-betul sebuah ajang penyiksaan dan kekerasan yang amat sangat nyata. Pemukulan berkali-kali pada muka, leher, punggung, perut dan sebagainya yang dilakukan oleh banyak orang yang melakukannya dengan tertawa-tawa, seakan-akan berbahagia melihat kesakitan yang telah diperbuatnya, entah apa tujuan dari diadakannya acara itu. Yang pasti, hal itu hanya akan memberikan tradisi buruk yang akan diturunkan turun-temurun bila pemerintah dan kepolisian tidak segera turun tangan dan memutus tradisi itu.

Apa jadinya bila calon aparat kita dipukuli seperti itu di saat pendidikannya? Apakah dia akan kembali memukuli orang-orang yang seharusnya dilayaninya? Aku sepakat dengan beberapa komentar yang masuk ke acara Buletin Siang RCTI, bahwa disiplin tidak identik dengan kekerasan. Namun disiplin terpaut erat dengan ketegasan, yang saat ini agak sulit ditemui di dalam pemerintahan ini.

Bangsa ini sedang disucikan. Semua sektor sedang dibuka keburukannya. Kini dunia pendidikan sedang disorot. Semoga pensucian ini membuat semua orang menyadari sepenuhnya bahwa Berkah Tuhan sedang dijauhkan dari bangsa ini. Semoga apa yang terjadi membuka mata hati kita semua untuk sama-sama menciptakan dunia pendidikan di Indonesia yang lebih baik. Dan semoga instansi pendidikan yang memiliki tradisi demikian segera menyudahinya dan tidak perlu menunggu adanya korban sebagaimana yang terjadi di STIP.