“Gue dapat pencerahan dari blog ini, bahwa sekarang semakin jelas dengan adanya hal-hal seperti ini akan menambah keyakinan bahwasannya “komunitas eden” itu benar2 ada, jadi tinggal cari alamatnya aja untukĀ bergabung dengan saudara-saudara yang lain tuk ngebakar tempat ente sebelum ente dibakar dinerakanya Allah SWT.”
Itulah sebuah komentar yang masuk ke dalam blogku ini. Jujur, ketika aku membacanya, aku langsung menghapusnya dari daftar comment dengan alasan bahwa komentar seperti itu tidak bersesuaian dengan apa-apa yang menjadi tujuanku mengadakan blog ini, yaitu demi pencerahan bersama. Betapapun, aku berterima kasih atas komentar yang diberikan. Bagiku, hal itu menunjukkan adanya perhatian dan apresiasi yang diberikan atas apa-apa yang menjadi kesaksianku dalam mengimani pengajaran-pengajaran Ruhul Kudus di Eden.
Namun setelah kupikir-pikir, ada beberapa poin penting yang menurutku dapat diambil hikmah dan pelajaran di dalamnya. Dan syukurlah, komentar yang telah terhapus tersebut masih dapat kuperoleh dari email pemberitahuan yang sampai.
Ada dua poin yang ingin kupertanyakan kembali kepada sang pengkomentar, yang telah kucantumkan di dalam email balasanku kepadanya secara japri (semoga alamat emailnya bukan alamat email palsu. Karena sangat disayangkan, sudah marah-marah, mengatasnamakan Tuhan, tidak jujur pula..) yang sampai kutuliskan hikmah ini masih belum ada balasan darinya.
Pertama, mengapa harus menyelesaikan urusan perbedaan ini dengan cara ‘dibakar’ yang merupakan cara yang mengedepankan kekerasan? Antara saya dan pengkomentar belum pernah saling bertemu sebelumnya. Kami tidak saling kenal, dan tiba-tiba dia ingin bergabung dengan mereka-mereka yang disebut saudara-saudaranya untuk melakukan pembakaran atas tempat tinggal saya di Eden.
Yang ingin kutanyakan kepadanya adalah, bukankah api itu identik dengan iblis? Bukankah hanya iblis yang menyukai kehancuran dan pengrusakan apalagi dengan menggunakan api sebagai medianya? Bukankah setiap ajaran agama dan keyakinan yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu selalu mengedepankan dialog dan cara-cara damai dalam menyikapi perbedaan?
Kedua, apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membakar kami di Neraka atas apa-apa yang kami yakini atas-Nya, yang kami aplikasikan dengan cara dan jalan yang damai? Bagaimana bila kami pun menyampaikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang disabdakan Ruhul Kudus di Eden, tidak menyukai orang-orang yang mengatasnamakan Nama-Nya untuk melakukan pengrusakan dan penzaliman terhadap umat agama lain sebagaimana yang marak terjadi sekarang ini? Karena atas ulah segelintir orang yang mengedepankan kekerasan itulah kemudian image Tuhan dan agama menjadi buruk karenanya, sehingga agama yang menjadi ajaran dan petunjuk dari Tuhan kemudian malah menjadi sumber konflik dan perpecahan.
Wahai, andaikata Anda sang pengkomentar membaca tulisan saya ini, saya sangat mengharapkan terjadi dialog yang sehat, tabayyun, diskusi dan saling mencerahkan di antara kita. Karena sungguh tidak dapat dipungkiri bahwa agama Islam (sebagaimana penafsiran saya terhadap keyakinan sang pengkomentar) merupakan agama yang benar dari Tuhan, namun bukanlah satu-satunya realitas kebenaran yang diayomi-Nya. Dan setiap dari kita dapat memiliki penafsiran yang berbeda-beda atas Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya sebagaimana yang telah saya tuangkan di blog ini.
Semoga Tuhan mengayomi dan memberkati kita semua. Amin.