Dalam sebuah majelis di Eden, Ruhul Kudus meminta kepada sebagian kaum Eden untuk menyampaikan kritiknya atas sifat-sifat yang dianggap kurang atas diri Paduka Bunda.

“Masalahnya, Paduka Bunda seorang manusia. Saya memang makhluk yang sempurna. Perasaanku tak pernah terlukai. Aku tak pernah dendam. Aku juga tak pernah curiga, karena semua hal dapat aku ketahui secara telanjang, secara polos. Jadi yang marah itu dan yang mengekspresikannya itu lebih banyak oleh Paduka Bunda. Tapi kemarahannya itu memang kamilah yang mengutarakannya kepadanya.”

Demikian sabda Ruhul Kudus kepada kami. Maka majulah beberapa hadirin untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai kekurangan yang dianggap terdapat pada diri Paduka Bunda, dimana mereka-mereka yang dipilih untuk menyampaikan kritikannya adalah orang-orang yang telah lama bersama Paduka Bunda menjalani takdir Salamullah-Eden ini sejak 12 tahun lamanya, sehingga sangat mengenali pribadi Paduka Bunda yang turut mengalami perubahan menjadi semakin lebih baik selama mendapatkan bimbingan dari Ruhul Kudus.

Dari pengajaran malam itu, Ruhul Kudus menyampaikan penjelasannya yang luar biasa tentang bagaimana Ajaran Tuhan itu terhadirkan justru melalui berbagai kekurangan dan sifat-sifat lemah yang ada dalam diri Paduka Bunda dan kaum Eden sendiri. Karena dari sifat atau tabiat buruk yang dimiliki oleh masing-masing, terjadilah interaksi dan permasalahan yang kemudian disampaikanlah Petunjuk Tuhan bagaimana mengatasi, memperbaiki dan mensucikan sifat-sifat buruk yang masih dimiliki.

“Andai semua berjalan mulus, tak ada halangan, tak ada kenaasan, tak ada celaka, tak ada hambatan, tak ada keputusasaan, apa jadinya Surga yang kubawa ini? Kalau Anda semua melihat sosok Ruhul Kudus sejati turun dari langit ke dunia ini dan tiba-tiba menjelma menjadi Paduka Bunda yang sangat suci, lalu apakah Anda bisa melihat atau menilai siapakah dia sebenarnya? Bisakah kau melihat sosokku sebagai Ruhul Kudus Malaikat Jibril yang suci?

“Andai dia suci dari awal, dia sempurna dari awal, dia berbahagia dari awal, dia jujur dari awal, dia rendah hati dari awal, dia berpasrah dari awal, dia berani dari awal, dia bijaksana dari awal, bagaimana Anda bisa merasakan bahwa aku Ruhul Kudus sedang turun membawa Kerajaan dan Surga Eden? Perbedaan yang mencolok menjadikan kalian tahu siapa yang sedang berbicara.

“Andai dia tak berdosa, andai dia sempurna, bagaimana Anda bisa tahu Pengajaran Tuhan, Perimbangan-perimbangan Tuhan, Perhitungan Tuhan atas Pembalasan-Nya terhadap dosa-dosa yang kecil maupun besar? Andai kalian semua ini baik, jujur dan terpelihara keluhuran dan kejujurannya, adakah pengajaran yang bisa ditauladankan dengan seksama ke masyarakat? Seksama dalam perimbangan-perimbangannya, perimbangan kesalahanmu dan kebenarannya, perimbangan hukumannya atau penghargaan atasnya.”

(Sabda Ruhul Kudus, 4 Juli 2008)

Sungguh ada orang-orang yang sejak lahirnya telah terbentuk sebuah pribadi yang baik dan suci, dan dalam menjalani hidupnya, dia selalu berada di dalam kebenaran dan tidak memiliki masalah atau hambatan dalam kesehariannya. Mengapa bukan orang yang demikian yang dipilih Tuhan sebagai Utusan-Nya di zaman ini? Demikianlah justru Tuhan memilih seorang Paduka Bunda yang pernah melakukan dosa, demikian pula warga Eden yang menyertainya pun bukanlah orang-orang yang tak berdosa, melainkan pernah melakukan berbagai dosa masa kini yang umum dilakukan oleh masyarakat sebelum sampai dan disucikan Tuhan di Eden.

Maka, melalui pensucian atas sifat kami masing-masinglah Tuhan menghadirkan Pengajaran-Nya di Eden. Dengan demikian, sungguh setiap Ajaran-Nya yang diturunkan di Eden melalui Ruhul Kudus sangat mengena dan mudah diaplikasikan serta membawa kami-kami yang menyimaknya selalu berkeinginan untuk menyudahi segala sifat dan tabiat buruk yang kami miliki demi kesucian mutlak yang dikehendaki Tuhan.

Semoga Tuhan memperkenankan kami dapat mencapai kesucian mutlak sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Amin.