Teman, salah satu hal yang sangat luar biasa di Eden adalah turunnya Wahyu-wahyu Tuhan dan sapaan-sapaan Ruhul Kudus di dalam keseharian kami di Eden. Setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan kami sehari-hari maupun yang terkait dengan keadaan bangsa dan dunia pada saat ini menjadi topik pembahasan yang mengandung begitu banyak hikmah dan pelajaran yang menjadi inspirasi dan pegangan kami di dalam menjalani pensucian diri sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Dan sungguh aku sangat mensyukuri karena menjadi bagian dari orang-orang yang mendokumentasikannya.
Melalui halaman ini, aku ingin berbagi kutipan-kutipan pengajaran Ruhul Kudus yang termaktub di dalam sapaan-sapaannya sebagai serpihan hikmah yang kuperoleh di dalam keseharianku di Eden. Semoga dapat menjadi pencerahan bagi siapa pun yang membacanya.
Salam
“Orang-orang yang tetap kepada komitmennya, walau dia tak sanggup lagi, itulah keimanan. Dan sesungguhnya itulah pencapaiannya. Orang yang tertatih-tatih, orang yang terbata-bata, orang yang keletihan, orang yang kejenuhan, orang yang di dalam memendam rasa kesal, marah, letih, dan segala sifat yang tidak menyenangkan terhadap Tuhan dan terhadap kami, namun bila komitmennya tetap jernih, demikian Tuhan akan melapangkan jalannya kembali.”
(Sabda Ruhul Kudus, 29 November 2008)
“Kebijaksanaan itu dapat diperoleh melalui aneka macam hikmah-hikmah dari setiap persoalan yang terselesaikan. Bagaimana kalian bisa menjadi bijaksana bila sangat monoton yang kauhadapi?”
“Selalu seperti itu. Kesucian itu seperti itu, harus diupayakan. Tidak bisa kalian diam-diam suci. Harus ada masalah yang kalian harus atasi dan kemudian kalian menjadi suci karenanya.”
(Sabda Ruhul Kudus, 22 November 2008)
“Setiap keberanian karena Tuhan, niscaya mendatangkan keselamatan.”
“Perbaiki sifat-sifat burukmu. Hilangkan, karena tak mungkin orang lain yang menghilangkannya. Tak juga Tuhan, karena Tuhan menginginkan kalian yang harus menghilangkan sendiri. Itulah yang baru dinamakan bersuci dan menjadi suci.”
(Sabda Ruhul Kudus, 15 November 2008)
“Demikian sesungguhnya Kerajaan Eden ini selamanya akan sederhana, karena kita sama-sama membawakan Amanat Tuhan yang sangat berat bagi seluruh umat manusia. Kita menyampaikan kutukan-kutukan. Kita menyampaikan penghakiman. Kita menyampaikan Penghapusan Semua Agama. Kita menyampaikan semua yang terberat, bahkan tentang Neraka sekalipun. Maka kita tak boleh berpesta, kita tak boleh bermegah-megah. Kita harus pandai menempatkan Rahmat Tuhan ini sebaik-baiknya. Kita harus bisa memperlihatkan kepada seluruh umat manusia bahwa kita sedih, kita prihatin membawakan Amanat Tuhan ini.”
“Aku tak menjanjikan apa-apa sampai Tuhan yang berkenan terhadap apa-apa yang telah dijanjikan-Nya. Aku tak berjanji apa-apa kecuali Tuhan yang menjanjikannya. Dan aku tak menjadikan apa-apa kecuali Tuhan ingin menjadikannya. Jadi aku ini adalah hamba Tuhan yang mengabdi dari setiap Perjanjian-Nya yang akan terlaksana.”
(Sabda Ruhul Kudus, 13 November 2008)
“Bagiku, siapa pun yang cepat berhasil menunaikan pembayaran hutangnya adalah yang terbaik. Namun yang lebih baik dari itu ialah membayar hutang dengan cara yang benar. Jangan terburu-buru sehingga kau melakukan kesalahan. Jangan juga berlama-lama agar kau tak tergoda melakukan kesalahan di tengah jalan.”
“Siapa-siapa yang pernah tidak adil, maka jangan pernah mengira dia akan terbebas dari sikap tidak adil terhadap dirinya. Jadilah adil selama-lamanya, karena semua itu adalah jalan ketentraman bagimu sendiri dan keberhasilan dan keberuntungan dan kesucian dan keselamatan.
“Kunci kehidupan itu adalah kebenaran dan keadilan. Apabila tak ada keadilan, maka tak akan ada kebenaran. Maka sesungguhnya keadilanlah yang mendasarinya, yang mendasari kebenaran.
“Kesucian itu karena kebenaran yang selalu dijadikan sikap hidup. Dan kebenaran baru bisa tercipta karena keadilan. Bila kau terbiasa menghitung secara adil, maka hidupmu akan selalu beruntung dan tentram.”
“Kalau memberi sesuatu, jangan lupa terhadap urusan keadilan. Bila kau dengan segala memberikan kurang, berarti kamu dengan sengaja berbuat tidak adil. Maka setiap memberikan sesuatu, pikirkanlah. Jangan membawakan sesuatu bila tidak cukup untuk dibagi sejumlah orang yang ada.
“Kalau uangmu sedikit, orang yang kau kasih harus 70, bawakan 35 agar bisa dibagi dua. Atau kalau tidak bisa, yang bisa dibagi tiga atau dibagi empat, tapi jangan membawanya yang ganjil sehingga tak bisa dibagi, seberapa pun ingin dibagi tak cukup.
“Jadi jangan pernah memberi bila kau tak yakin akan adil. Takutlah kamu berbuat tidak adil dengan sengaja. Karena bila kamu berbuat tidak adil dengan sengaja, maka kamu pun akan tertimpa ketidakadilan secara sengaja.”
(Sabda Ruhul Kudus, 3 November 2008)
“Tak mudah meredakan amarah kecuali bila kau mengumpulkan konsentrasi dan menyatakan, “Aku memaafkan dia.” Maka Tuhan pun seakan membelah kemarahanmu dengan pemberian maafmu itu. Kemudian marahmu dibuang oleh-Nya. Dan maafmu itu diangkat dan kemudian ditelungkupkan oleh-Nya.
“Mengapa aku mengatakan diangkat dan ditelungkupkan? Maafmu diangkat, karena dihitung sebagai sebuah kebajikan darimu. Dan pemberian maafmu itu dapat menghilangkan efek atau menyurutkan efek tulah.
“Mengapa aku mengatakan diangkat kemudian ditelungkupkan? Tuhan mengangkat maafmu dan kemudian menelungkupkannya. Itu penjaminan bagimu dan bagi orang yang dimaafkan. Tapi ditelungkupkan karena Tuhan mempunyai sebuah sistem hukum sendiri.”
“Bagaimana menilai sebuah kebenaran? Bagaimana menimbang sesuatu untuk mendapatkan sebuah kebijaksanaan? Bagaimana menilai keluhuran? Ialah sikap ketika dalam kesakitan yang amat sangat, kesedihan yang amat sangat, kekecewaan yang amat sangat, kemarahan yang amat sangat, kejengkelan yang amat sangat. Setiap reaksi dari orang yang sedang merasakan sesuatu yang amat sangat, di sanalah kita bisa melihat kebijaksanaannya atau kebodohannya atau sifat buruknya atau kebiasaan-kebiasaan buruknya.”
(Sabda Ruhul Kudus, 1 November 2008)
“Jadi bila kau menghatur sembah kepada Paduka Bunda, maka tengoklah itu sebagai Tuhan memperhatikan sikap Anda kepada Paduka Bunda. Bukan pengkultusan, tapi penghikmatan terhadap Kerajaan Eden, pengagungan terhadap Kerajaan Eden. Itu sebabnya bila Paduka Bunda tersalah, dia pun dihakimi. Begitu pun bila dia lalai, dia ditegur dengan keras atau dipermalukan.”
(Sabda Ruhul Kudus, 24 Oktober 2008)
“Dan Aku mengharamkan kamu mengkultuskan dia sebagaimana kepada-Ku, karena dia hanyalah Ciptaan-Ku yang menjadi Perintah-Ku. Tapi demi keagungan Kerajaan Eden dan Surga Eden, Aku mendudukkan dia di posisi kedudukan yang termulia yang mewajibkan seluruh umat manusia menyembahnya.
“Akulah Paduka Maharaja Diraja dari seluruh alam semesta. Ini hanya sekedar Kerajaan-Ku, sebuah Kerajaan-Ku di sebuah bumi, namun aku menjadikan Ruhul Kudus dan Sri Ratu Lia Eden sebagai Maharaja dan Maharatu bagi seluruh negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia. Tapi mereka berdua bersujud dan menyembah-Ku dan bertaat mutlak kepada-Ku.”
(Wahyu Tuhan, 18 Oktober 2008)
“Sungguh sulit menahan kebanggaan. Sungguh sulit menjadi orang yang arif. Karena menjadi orang yang arif bijaksana, kerendahan hatilah kuncinya. Mawaslah dirimu melalui kerendahan hatimu.”
(Sabda Ruhul Kudus, 18 Oktober 2008)
“Sungguh takkan terjadi ketentuan sebuah nasib tanpa ridho dari Tuhan.”
“Apakah Tuhan berbahagia melihat kau (Bunda Lia Eden) memarahi anakmu dan membela-Nya? Apakah Tuhan suka melihat Utusan-Nya melakukan hal itu karena Dia? Apakah Tuhan suka cemburu dengan orang-orang yang kita cintai? Apakah Tuhan senang bila orang yang kita cintai kita perlakukan keras karena lebih mencintai Dia? Apakah Tuhan merasa disaingi oleh orang-orang yang kamu cintai?
“Jadi Tuhan pencemburu? Kalau itu dilihat dari sudut seperti itu, kelihatannya harus diiyakan, padahal sesungguhnya tak seperti itu. Tuhan hanya ingin kamu fokus kepada tugas dan tanggung jawabmu. Dan itu adalah Amanat-amanat Nya. Karena bila ada yang lebih kaucintai, maka kau tak akan fokus dan kau bisa tersalah. Sementara di dalam tanggung jawab dan tugasmu itu, urusannya terkait dengan seluruh umat manusia di dunia ini, tak sebanding dengan cintamu kepada anakmu. Tapi bila orang yang kaucintai melukai hatimu, kau pun bisa lengah dan lemah dan tak sanggup mempertimbangkan hal-hal yang sedang kauhadapi dengan netral, jernih, karena pikiranmu sering terganggu terhadap masalah anakmu yang kaucintai.”
“Aku adalah ruh kebenaran dan adalah ruh kesucian, maka sungguh aku tak mungkin berbeda pendapat dengan Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Benar. Aku adalah Ciptaan Tuhan untuk kesucian dan kebenaran dan kebajikan. Jadi apabila aku bertindak keras atau bertindak tegas, itu karena kebenaranlah yang kuselamatkan. Itu adalah demi kesucian Surga dan Kerajaan Eden.”
(Sabda Ruhul Kudus, 10 Oktober 2008)
“Ujian itu bisa bermacam-macam. Dari kebahagiaan ada ujian kearifan. Dari kesalahan, ada ujian kesabaran dan kesungguh-sungguhan.”
(Sabda Ruhul Kudus, 4 Oktober 2008)
“Setiap kesadaran dan pertaubatan, selalu diterima oleh Tuhan dengan tangan yang terbuka.”
(Sabda Ruhul Kudus, 7 Agustus 2008)
“Kalau kau tak bisa suci melalui keinginanmu sendiri, Tuhan selalu mempunyai cara mensucikanmu sampai menjadi suci murni dan sampai menjadi suci mutlak dengan Cara-Nya sendiri.”
“Seberapa pun baiknya keinginan itu, seberapa pun benarnya keinginan itu, bila menggelora keinginan yang amat kuat di dalam keinginan baik dan keinginan benar itu, bisa terjadi sebuah kesalahan atau kelalaian.”
“Kukatakan, di dalam keinginan yang terkuat, kelalaian bisa terjadi. Maka, waspadalah selalu kalian pada keinginan yang terkuat.”
“Jangan sekali-kali lalai bila kau berada dalam suatu keadaan dimana kau mempunyai keinginan yang kuat. Curigalah kamu kepada keinginanmu yang kuat. Curigalah bila sampai dia menggelincirkan kamu. Dan pahamilah bahwa Tuhan dan malaikat-Nya itu selalu ingin kalian menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik melalui ujian-ujian yang diberikan-Nya kepadamu.”
(Sabda Ruhul Kudus, 5 Agustus 2008)
“Konon, Tuhan disembah karena Kemahapengasihan dan Maha Penyayang-Nya. Dan Tuhan adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Jadi setiap orang yang datang kembali dan bertaubat dan memohon ampunan, bila itu berasal dari hatinya yang paling dalam dan utuh, niscaya Tuhan mengampuninya.”
“Sungguh iblis adalah makhluk yang paling terkutuk di semesta ini. Dan sungguh iblis itu amat jahat, amat keji, amat culas, amat curang. Segala yang sangat buruk, tabiat yang sangat buruk, mereka tak pernah setengah-setengah. Karena bila dinamakan iblis, demikian segala sifat buruk dimilikinya. Demikian itulah makhluk yang paling terkutuk. Lalu bila ada masanya iblis berubah kodrat menjadi kodrat yang lebih mulia, itulah Kemahapengampunan Tuhan dan Kemahaadilan Tuhan.”
“Tak ada kebenaran bila tak ada kesalahan. Dan tak ada nilai di antara kebenaran-kebenaran bila tak ada nilai kesalahan dan nilai penyesalan dan pertaubatan. Karena ada orang yang menyesal separuh, bertaubat separuh, ada yang bersungguh-sungguh. Namun ada orang yang dengan tekad yang belum bulat, tapi kemudian dengan segala kesadarannya dia mengutuhkan tekadnya. Di situlah nilainya, nilai kesalahannya dan nilai kebenarannya. Maka bila kamu tahu seseorang yang kalah, dan di dalam kekalahannya dia berjuang mengatasi kesalahan-kesalahannya, dan ketika perjuangannya itu untuk mencapai kemutlakan dia amat bersungguh-sungguh, maukah kamu melihat bahwa daripadanya ada keutuhan kebenaran, ada nilai kebenaran yang diperjuangkannya, dan ada nilai kebenaran yang diraihnya?”
“Orang yang biasa-biasa saja, yang tak pernah mendapatkan tantangan, tapi tak pernah juga melakukan kesalahan, karena dia lemah lembut, penurut dan selalu patuh, tidaklah sama dengan orang yang pembangkang, tapi yang kukuh dan kuat perjuangannya. Kedua-duanya benar dan kedua-duanya baik. Namun di setiap masalah yang ditanggulangi, di situlah ada perjuangan, dan di dalam perjuangan itulah ada nilai.
“Laut yang tenang dan laut yang menggelora, ketika Anda selalu mendapati laut itu selamanya tenang, Anda tentram, tapi tak ada tantangan. Ketika ada tantangan, Anda syok dan Anda tak tahu harus berbuat apa. Dan Anda bisa gagal karena Anda tak terbiasa menghadapi tantangan yang berat.
“Laut yang menggelora, ketika nelayan tak bisa melaut mencari ikan, mereka terpaksa menambatkan perahunya dan mencari pekerjaan yang lainnya. Dan mereka biasanya sulit mendapatkan pekerjaan yang lazim mereka lakukan selama ini. Di situlah penderitaannya, di situlah perjuangannya. Bila dia menjadi petani atau buruh atau tukang batu, niscaya di dalam hatinya selalu ingin kembali melaut. Di situlah penderitaan batinnya. Tapi dalam dia mencari pekerjaan apa saja untuk menghidupi dirinya atau keluarganya, di situlah tantangan hidup yang dilaluinya. Dan ketika dia berhasil mengatasi masalahnya, dan ketika laut lepas itu kembali tenang, dan dia berbahagia kembali menjadi nelayan. Maka ketika laut yang tenang itulah dia merasakan kebahagiaan yang tiada taranya.
“Itulah bedanya yang kukatakan, laut yang tenang dan laut yang bergejolak. Laut yang tenang, yang biasanya selalu menentramkan, ketika datang laut yang bergejolak, orang yang tak biasa mengalami gejolak dalam hidupnya, mereka bisa kalah. Atau setidaknya, dia bisa menderita, lebih menderita daripada orang yang biasa menghadapi tantangan.”
“Tak ada kezaliman di Eden. Tak ada penganiayaan. Yang ada adalah tekanan untuk menjadi suci. Dan untuk menjadi suci adalah bertanggung jawab terhadap apa pun yang ada dari dalam dirinya maupun apa pun yang dihadapinya.”
(Sabda Ruhul Kudus, 2 Agustus 2008)
“Kalau Anda akan mengalami sebuah aral melintang, aku sudah memberitahukannya. Kalau Anda terpaksa mengalaminya, aku pun menjelaskannya apa maksudnya, dan selalu ada hikmah yang diperoleh. Jadi setiap kejadian yang membahagiakan atau yang naas, semua dijadikan Tuhan demi pelajaran pensucian kamu.”
(Sabda Ruhul Kudus, 31 Juli 2008)
“Belajar di sini itu sesungguhnya murah. Yang mahal hanyalah pengorbanan hati. Yang mahal itu hanyalah menghadirkan ketulusan yang murni. Yang mahal hanyalah kesucian yang harus mutlak.”
“Apabila aku ini sudah cukup tua, cukup lama, berpengalaman mengenali sifat-sifat manusia dari zaman ke zaman, apakah manusia itu berbeda bila memikirkan keluarganya dan harta bendanya dan pekerjaannya serta urusan-urusannya dari zaman ke zaman? Anak, harta dan pekerjaan adalah sebuah kepemilikan yang niscaya sadar atau tidak sadar selalu meliputi pikiran seorang manusia, apakah itu laki-laki ataupun perempuan. Sama saja dari zaman ke zaman. Maka bila Tuhan mendatangkan Surga, setiap orang memperjuangkan dirinya sendiri ke Surga. Karena manalah dia bisa memikirkan membawa orang lain? Sementara dirinya saja sudah sulit terbebas dari beratnya Ujian-ujian Tuhan kepadanya.”
“Sumpah-sumpah kalian sudah terjalin menyatu dengan Sumpah-sumpah Tuhan. Jadi bila kalian ini akan mengkhianati sumpah kalian, lebih baik kalian meminta kepada Tuhan agar mengambil nyawamu.”
“Maka siapa-siapa yang datang dengan wajah yang murung, apalagi menangisi apa-apa yang harus ditinggalkannya, kukatakan beranjaklah meninggalkan Eden. Karena sungguh Tuhan tak mempedulikan seberapa pun yang tertinggal, yang setia dan yang tak memikirkan apa pun kecuali Amanat Tuhan.”
“Sungguh berat menjadi orang Eden. Sungguh sulit dan sungguh keras persyaratan-persyaratanku. Keras, tapi tidak menistakan. Keras, tapi tidak melukai. Keras, tapi tidak menghinakan. Keras, tapi tidak menyulitkan. Keras, tapi mensucikan. Keras, tapi membawa rahmat bagimu.
“Karena bila aku tidak keras, bagaimana aku mengatur disiplin atas diri kalian? Bagaimana aku bisa membawa turun Surga dan Kerajaan Eden untuk kalian? Kalau aku tidak keras, bagaimana aku mengutarakan ke masyarakat di luar bahwa inilah Kerajaan Eden dan Surga Eden yang diberikan kepada orang-orang yang suci? Dan bagaimana kalian bisa suci bila kalian tidak menurut kepada segala persyaratanku dan ajaran-ajaranku? Maka jangan pernah berdalih, jangan pernah berkilah untuk urusan-urusanmu di luar Eden. Biasakan bekerja menjadikan segala Amanat Tuhan di sini.”
“Selayaknya Tuhan itu senantiasa bersedia memberikan Petunjuk-petunjuk-Nya yang amat berharga, bukan Kemarahan-kemarahan-Nya yang kuutarakan sebagaimana kemarahan-kemarahanku. Selayaknya Tuhan itu selalu berbicara yang lembut, yang menyenangkan, yang selalu memberikan harapan, tidak seperti yang kami ucapkan.
“Tapi mengapa ada petir yang bisa mematikan? Kenapa ada gelombang pasang yang bisa membawa hanyut rumah-rumah? Kenapa ada gunung yang meletus, menghancurkan rumah-rumah dan ladang-ladang? Kenapa ada banjir yang membawa hanyut rumah-rumah? Kenapa ada puting beliung, topan badai? Kenapa ada lumpur yang meluap dari dalam perut bumi? Kenapa ada kecelakaan-kecelakaan yang terus-menerus terjadi? Kenapa ada penyakit yang sulit disembuhkan dan marak di mana-mana? Kenapa ada virus ganas yang susah diatasi? Kenapa perekonomian menjadi begini berat? Samakah dengan peringatan-peringatan yang kusampaikan ini?”
(Sabda Ruhul Kudus, 28 Juli 2008)
“Kapan aku menukikkan sesuatu bila bukan di ujung keinginan? Kalau aku bisa mendapatkan lebih banyak ketulusanmu pada saat di ujung keinginan kalian yang terbesar, niscaya aku selalu mempergunakan momen itu.”
“Santunlah di dalam segala ucapan dan tindakanmu. Karena bila kami mendapati kau sulit dibuat santun, kau akan terjebak sendiri dengan ketidaksantunanmu itu.”
“Bila ingin melakukan sesuatu, pikirkanlah matang-matang. Kalau kau ragu, kalau kau curiga, kalau kau was-was, kalau kau takut, mohon kepada Tuhan, agar diberi petunjuk oleh Tuhan. Jangan lepas kontrol atau jangan terlalu percaya diri, tapi kemudian kau salah.”
(Sabda Ruhul Kudus, 21 Juli 2008)
“Demikian kau harus bisa melihat kebenaran yang hakiki, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang sejati, kebenaran yang murni, kebenaran yang terbenar, kebenaran yang benar, kebenaran yang setengah benar, kebenaran yang sedikit benar atau kebenaran yang mengandung kesalahan atau kebenaran yang palsu. Jadi kau belajar menyelidiki mana kebenaran yang palsu sampai kepada kebenaran mutlak dan kebenaran hakiki. Untuk itulah aku mengajarimu. Dan kami akan membuat kamu netral di tengah seluruh bangsa dan suku-suku bangsa, karena setiap bangsa pun ada suku-sukunya. Di dalam setiap bangsa ada suku-sukunya yang tertindas, ada suku-sukunya yang terbaik dan terbenar dan ada yang tersalah.”
(Sabda Ruhul Kudus, 14 Juli 2008)
“Ujian itu bisa bermacam-macam. Dari kebahagiaan ada ujian kearifan. Dari kesalahan, ada ujian kesabaran dan kesungguh-sungguhan.”
(Sabda Ruhul Kudus, 4 Oktober 2008)
“Sesuatu yang dipikirkan dalam-dalam menjadikan kamu bijaksana dan cerdas. Sesuatu yang tak dipikirkan dalam-dalam membuat kalian bersalah dan bodoh.”
“Bila kamu ingin melangkah, jangan berbuat sesuatu bila kau belum yakin langkahmu itu benar dan baik dan selama-lamanya akan benar dan baik. Oleh karena itu, ketika kau melangkah, kau harus tahu langkahmu itu adalah langkah yang baik dan benar untuk seterusnya. Karena bila itu yang kamu niatkan, ada halangan apa pun yang kaulalui, kau harus tetap selalu dalam pertimbangan yang seimbang dan takkan tersalah.
Orang yang tersalah bila mempunyai kehendak, masih mempunyai kepentingan di luar Kehendak Tuhan padanya atau di luar kehendaknya terhadap Tuhan. Sebuah kehendak yang mendominasi pikiran dan keinginan, akan mengalahkan kepatuhannya kepada Tuhan.”
(Sabda Ruhul Kudus, 9 Juli 2008)
“Sebaik-baiknya pertaubatan, ialah pertaubatan yang hanya sekali disebutkan dan selesai, tidak dinyatakan berulang-ulang. Dan seburuk-buruknya kebajikan ialah bila masih mengandung kesalahan sekecil apa pun.”
“Jangan suka meniatkan berbuat kebajikan bila di luar jangkauanmu. Karena bila di luar jangkauanmu, kau bisa menunda kebajikan itu atau mungkin ketulusanmu itu tidak utuh.”
(Sabda Ruhul Kudus, 8 Juli 2008)
“Orang yang tentram yang tak mengalami masalah apa-apa di hati dan pikirannya, cenderung stabil dan jauh dari ketersalahan. Maka sesungguhnya yang membuat orang bisa tersalah adalah kegundahan, keresahan, kegelisahan, kecurigaan dan ketertekanan.”
“Bisakah kalian itu merasakan ketentraman bila Anda sesungguhnya tak bisa melepaskan ketakutan tersalah? Ada cara yang menentramkan, yaitu membawa diri selalu benar dan jiwa cenderung selalu ingin berbuat baik. Jadi, jangan pernah terlepas dari keinginan itu. Karena bila kalian tak pernah melepaskan keinginan untuk selalu berbuat baik, maka Anda semakin jauh dari kesalahan. Sedang tersinggung pun, sedang jengkel pun, Anda akan tetap berada dalam lajur keinginan berbuat baik.”
“Jadi apa yang ditakutkan oleh seorang manusia? Ialah sebuah kejahatan, kejahatan yang menghampirinya dari dalam dirinya atau dari luar dirinya. Tapi bila seseorang itu selalu ingin berbuat baik dan keinginan itu telah stabil, sudah menjadi ciri jiwa, kejahatan tak akan menghampiri dari dalam maupun dari luar dirinya, karena seluruh sikap baik dan perbuatan baik itu menghasilkan ketentraman bagi yang mendapatkan kebajikan dari diri Anda maupun hasil kebajikan itu memberikan ketentraman dari dalam diri Anda.”
“Jadi ketentraman itu adalah buah dari kebajikan, buah dari kebajikan yang terus-menerus teraplikasi dari dalam diri Anda, kemudian menjadi ciri sifat Anda, kemudian menjadi tabiat Anda yang sepenuhnya. Dan semakin lama, semakin banyak orang yang menerima kebajikan dari Anda, dan banyak orang yang memberikan kesaksian atas kebaikan Anda itu, maka semua orang yang berada di sekeliling Anda yang bersaksi atas kebajikan-kebajikan Anda itu merasa ditentramkan oleh diri Anda. Dan orang-orang yang ditentramkan oleh diri Anda pun kemudian menauladankan sikap dan ucapan-ucapan Anda.”
(Sabda Ruhul Kudus, 6 Juli 2008)
“Tiadalah kebenaran dan tiadalah kebijakan bila melanggar etika. Dan segala pelanggaran etika adalah kesalahan. Takkan menjadi kebenaran, takkan menjadikan kebajikan, takkan menjadi kebijaksanaan. Karena pelanggaran etika adalah kesalahan. Dan semua kebaikan itu sejalan dengan etika dan tak sejalan dengan kesalahan dan hawa nafsu.”
(Sabda Ruhul Kudus, 6 Mei 2008)
“Jangan mengharapkan dibalas bila kau memberikan jasa maupun sesuatu kepada setiap orang. Wajibkan dirimu selalu memberi. Wajibkan dirimu tak mengharap apa-apa dari mana pun.”
(Sabda Ruhul Kudus, 19 April 2008)
“Orang-orang yang selalu tidak pernah ingin berhenti berbuat baik dan tak pernah membenci dan tak pernah membalas dan selalu mengembalikan segala sesuatu itu kepada Tuhan, itulah penghuni Surga.”
“Bila melaksanakan sebuah kebajikan, kebajikan itu harus bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya.”
(Sabda Ruhul Kudus, 3 Juli 2008)
“Suatu yang diberikan untuk ujian, ketika disikapi dengan sebuah ketulusan dan ketaatan, demikian Tuhan memberikan Rahmat-Nya yang setara.”
(Sabda Ruhul Kudus, 3 Juli 2008)
