Prakata
Saat aku memutuskan untuk memilih mentotalkan seluruh hidupku di Salamullah, sungguh aku tidak mengetahui akan dibawa ke mana diriku oleh Tuhan dan akan menjadi apa Salamullah ini. Namun, panggilan hati nurani ini tidak dapat kupungkiri. Dan setelah pilihan itu kujatuhkan, tidak ada rasa sesal atau ingin berbalik kembali ke kehidupanku yang sebelumnya.
Buku ini menuturkan sedikit latar belakang keluarga dan lingkungan dimana aku dibesarkan, bagaimana aku mulai mengenal Salamullah dan mengikuti kegiatannya, sampai kemudian pilihan itu datang dan aku memutuskannya sendiri tanpa intervensi dari siapapun. Semua semata adalah pergulatan pribadi atas peristiwa-peristiwa yang kusaksikan. Dengan adanya catatan ini, aku berharap siapapun yang merasa penasaran dengan jalan hidup yang kupilih ini dapat memahami peristiwa apa yang kualami sehingga pilihan itu terjadi. Setidaknya, para pembaca turut mengetahui mengapa pilihan yang tidak biasa ini bisa menjadi pilihanku.
Pilihan itu tidak hanya datang pada saat aku akan turut menapak di dalam takdir ini. Melepaskan syariat Islam dalam kehidupanku, kisah perjodohan dan pemberkatanku dengan Nur merupakan sebagian dari sekian banyak pilihan dihadirkan Tuhan dan harus kutentukan sendiri. Dan pergulatan yang kualami serta hikmah-hikmah yang kuperoleh itulah yang ingin kudokumentasikan di dalam buku ini.
Sungguh aku menyadari bahwa apapun pilihanku sesungguhnya telah berada di dalam Rencana dan Kehendak-Nya. Namun Tuhan seakan memberikan kepadaku kebebasan untuk menentukan langkahku. Dan aku selalu berdoa agar setiap pilihan yang kujatuhkan berada di dalam Ridho dan Kehendak-Nya.
Kepada siapapun yang membaca tulisanku ini, semoga kisah-kisah yang terhadirkan dapat memberikan hikmah untuk kita semua. Semoga kita semua senantiasa menyadari betapa pentingnya nilai dari sebuah pilihan. Amin.
“Bila bukannya Tuhan yang memperjalankan aku, tidaklah aku akan sampai pada sebuah takdir yang maha besar ini. Sungguh penuh hikmah setiap langkah perjalanan yang kurasakan sejak aku dipanggil-Nya untuk mengabdikan diri secara penuh di dalam Kehendak-Nya. Tidak ada penyesalan, tidak ada kekhawatiran setelah kupilih jalan ini. Hanya doa yang senantiasa kupanjatkan kepada-Nya agar Tuhan menguatkan aku untuk dapat melewati setiap peristiwa yang dihadirkan-Nya kepadaku.”
Latar Belakangku
Menurut orang tuaku, aku dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1982. Ayahku seorang pegawai negeri yang berprofesi sebagai dosen di sebuah sekolah tinggi bidang perikanan dan kelautan di Jakarta, sedangkan ibuku adalah pemimpin sebuah majalah yang bergerak di bidang interior desainer.
Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Aku dibesarkan dengan pendidikan agama Islam oleh orang tua dan lingkunganku. Walaupun demikian, aku senantiasa diajarkan untuk dapat menghargai dan menghormati umat agama lain. Mengedepankan kebersamaan di atas segala perbedaan baik suku, agama maupun ras menjadi pendidikan utama yang melekat di dalam keluargaku.
Secara umum, kehidupanku pada 18 tahun pertama dapat dikatakan berada dalam limpahan Kasih Sayang-Nya yang sangat luar biasa. Aku dibesarkan dengan perhatian dan kasih sayang baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar, baik tetangga maupun keluarga besarku. Aku hidup berkecukupan. Prestasi di sekolah pun juga di atas rata-rata dan aku dapat diterima di SMU Taruna Nusantara Magelang dan lulus tahun 2000 silam.
Perkenalanku dengan Bunda
Tante Lia, begitulah sapaanku kepadanya sewaktu beliau menjadi sahabat dekat ibuku. Tante Lia yang seorang perangkai bunga menjadi akrab dengan ibuku yang memiliki media yang bergerak di bidang interior. Beberapa acara mereka selenggarakan bersama dan terbilang cukup sukses.
Kedekatan antara Tante Lia dengan ibuku pun semakin terasa dengan cukup tingginya frekuensi telepon mereka dalam satu hari. Maka dari sanalah aku mengenal Bunda Lia, walaupun tidak terlalu dekat.
Tahun 1996, saat Bunda mulai merasakan hal-hal yang bersifat gaib, aku pun mendengarnya dari ibuku. Beberapa kali Bunda mengirimkan faks ke rumahku yang berisi tulisan-tulisan mahluk gaib yang menyatakan dirinya sebagai malaikat yang mendatanginya. Habib, demikian Bunda menyebut nama malaikat yang mendampinginya. Dikabarkan surat-surat itu datang dari ketiadaan dan muncul begitu saja di hadapan Bunda. Mendengar hal tersebut, aku tidak terlalu ambil pusing. Karena bagiku sendiri, aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau kegaiban.
Diterima di SMU Taruna Nusantara
Tahun 1997, setelah melewati berbagai peristiwa yang tak terencanakan, aku diterima di SMU Taruna Nusantara, sebuah SMU yang luar biasa, tempat berkumpulnya lulusan SMP terbaik dari seluruh Nusantara. Mengapa kukatakan tak terencana? Karena aku memang tidak berniat untuk melanjutkan sekolahku di sana.
Kebetulan, TK, SD dan SMP adalah sekolah swasta yang berada di dalam satu yayasan yang sama, yaitu Yayasan Perguruan Korps Bank Indonesia (YASPORBI). Dan ketiga sekolahku tersebut berada di dalam satu kompleks yang cukup dekat dengan rumahku sehingga aku dapat menempuhnya dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda.
Karena terbiasa dengan jarak yang begitu dekat, maka aku telah memikirkan untuk melanjutkan sekolahku bila lulus SMP nanti di sebuah SMU negeri yang berjarak tidak jauh dari rumahku. SMU 28, itulah nama SMU negeri unggulan yang menjadi tujuanku berikutnya. Lagipula, nilai-nilaiku selama di SMP dapat dikatakan cukup baik sehingga aku optimis dapat diterima di sana.
Setelah EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) selesai, hari-hari terasa lebih santai karena aku tinggal menunggu hasil dari belajarku selama 3 tahun ini. Tidak ada pikiran lain di kepalaku selain melanjutkan sekolahku di SMU 28. Tiba-tiba ada potongan koran yang ditempel di mading (majalah dinding) sekolahku yang menceritakan tentang SMU Taruna Nusantara dan keunggulan-keunggulannya. Beberapa orang guruku yang mendapati aku sedang mengamati iklan itu mulai mengarahkanku untuk mendaftar masuk di sekolah yang dikatakan unggulan nasional itu. Entah mengapa, aku tidak tertarik sama sekali.
Selama aku di SMP, salah seorang temanku bernama Nugroho – aku biasa memanggilnya Yoyo – menjadi sahabat yang sangat dekat karena kami memiliki hobi dan minat yang sama, di antaranya kami bersaing cukup ketat dalam memperoleh nilai terbaik walaupun kami berbeda kelas.
Suatu hari, seharian di sekolah aku tidak bertemu dengan sahabatku Yoyo. Sampai menjelang pulang sekolah, barulah kudapati dia sedang mengisi formulir dalam lembar-lembar besar berukuran double-folio. Tapi aku tidak peduli apa yang sedang dilakukannya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Yoyo menghampiriku dan menyampaikan permohonan maafnya karena dia telah mendaftarkan diri untuk masuk ke SMU Taruna Nusantara. Entah dorongan apa yang terjadi di dalam diriku, aku merasa ingin turut mendaftar apabila Yoyo juga mendaftar. Maka aku segera meminta formulir kepadanya. Ternyata formulir itu tidak ada padanya, melainkan dibawa oleh ibunya yang baru saja meninggalkan sekolah.
Spontan aku langsung berlari mengejar ibunda Yoyo yang sedang menunggu angkutan umum. Tepat sesaat ibunda Yoyo akan melangkah masuk ke dalam angkutan umum, aku meminta formulir sebagaimana yang diisi Yoyo pagi tadi. Maka diberikanlah kepadaku selembar besar formulir untuk difotokopi.
Tanpa pikir panjang, aku langsung memfotokopi formulir tersebut dan membawanya pulang ke rumah. Kepada ibuku aku langsung mengutarakan keinginanku untuk mendaftar ke SMU Taruna Nusantara. Dan aku ingin segera mengurusinya karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran.
Maka dalam keadaan yang serba terburu-buru, kuisi formulir itu dengan bantuan kakakku, Mbak Lala, yang memiliki tulisan yang lebih bagus dariku. Setelah semua kolom terisi, diantar oleh kakak dan ibuku, aku menuju KODIM 0504 Jakarta Selatan yang terletak di bilangan Pondok Indah. Hari menjelang sore, namun formulirku masih diterima. Entah mengapa, aku lega sekali. Senang saja, karena aku dapat mendaftar bersama dengan Yoyo, sahabat dan sainganku…
Hari demi hari berlalu, SMU Taruna Nusantara sudah tidak terlintas lagi dalam pikiranku. Sampai pada suatu hari, surat pernyataan yang menyatakan bahwa aku telah lulus dari tahap seleksi awal kuterima di rumahku. Namun yang mengejutkan, ternyata Yoyo tidak menerima surat serupa. Jadi, hanya aku yang lulus seleksi tahap awal.
Tahap awal sudah kulewati. Kupikir, untuk cari pengalaman dan mengisi waktu sambil menunggu nilai NEM turun, tidak ada salahnya kuikuti proses penyeleksian berikutnya. Maka berangkatlah aku ke SMU 4 di daerah Jakarta Pusat, dimana di sana telah berkumpul seluruh pelajar SMP yang telah dinyatakan lulus seleksi tahap awal.
Tahap selanjutnya pun dimulai. Hari itu adalah tes akademis. Berbagai mata pelajaran SMP diujikan dalam satu waktu. Pada hari berikutnya, dilanjutkan dengan tes psikotes. Bagiku, diterima atau tidak diterima di SMU Taruna Nusantara tidak menjadi penting lagi. Aku menikmati tes-tes tersebut dan kujalani tanpa beban karena yang ada di pikiranku masih ada SMU 28 yang mudah-mudahan dapat menerimaku.
Ada pengalaman yang tak terlupakan ketika para penguji yang didatangkan dari kalangan militer mengumumkan kelulusan pada tahap seleksi kali ini. Kami semua dikumpulkan di lapangan upacara SMU 4 dan dibariskan berdasarkan nomor KODIM kami masing-masing. Kemudian satu per satu nama para pelajar disebutkan dan diminta kepada yang namanya disebutkan agar memisahkan diri untuk membentuk barisan yang baru. Betapa bahagianya mereka yang disebutkan namanya. Ada yang berteriak histeris meluapkan kebahagiaannya, ada yang biasa-biasa saja tapi kegembiraan di wajahnya tidak bisa dipungkiri.
Satu per satu nama siswa yang dipanggil berdasarkan urutan pun mendekat ke nomor urutku. Lho, namaku dilewati? Wah, berarti aku tidak lulus nih. Tidak ada perasaan menyesal atau sedih mengetahui namaku tidak termasuk ke dalam rombongan orang-orang yang dipanggil. Yang ada di pikiranku adalah mulai mempersiapkan diri untuk mendaftar di SMU 28.
Akhirnya, seluruh pelajar yang dipanggil telah terkumpul. Maka kami terbagi dua kelompok, kelompok yang dipanggil dan tidak dipanggil. Kelompok tidak dipanggil merupakan kelompok dimana aku berada di dalamnya dan memiliki jumlah yang lebih sedikit daripada kelompok yang telah dipanggil sebelumnya.
Tiba-tiba kami diminta untuk berdiri dan kembali merapatkan barisan. Dalam pikirku, “Wah, kok udah nggak lulus masih disuruh-suruh begini?” Kulihat penguji yang tadi menyebutkan nama-nama yang diminta untuk memisahkan diri, menemui para pelajar yang telah disebutkan namanya. Kulihat penguji itu seperti memberikan pengarahan kepada mereka. Dan tak lama kemudian, barisan tersebut membubarkan diri dengan lesu, tidak ada lagi semangat yang tadi mereka luapkan ketika nama mereka disebutkan.
Ternyata, kelompokkulah yang lulus dalam penyeleksian tahap selanjutnya ini! Sungguh tak pernah kuduga. Yang jelas, aku senang karena aku dapat memasuki tahap berikutnya.
Tahap selanjutnya adalah tes kesehatan dan tes fisik. Aku bersama para pelajar lainnya melakukan general check-up di Rumah Sakit Muh. Ridwan Meureksa di daerah Salemba. Mulai dari diperiksa menggunakan sinar X, tes urine, tes darah dan lain sebagainya. Pada hari berikutnya, kami mengikuti tes fisik di lapangan bola Oerip Soemoharjo di Kampung Melayu. Kami harus berlari mengelilingi lapangan bola selama 12 menit, push-up, sit-up dan pull-up sebanyak-banyaknya. Dan semua tes-tes itu kujalani betul-betul tanpa beban dan aku betul-betul berbahagia karena mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan.
Setelah semua tes kujalani, pada hari berikutnya kami diminta untuk berkumpul di KODAM Jaya di daerah Cililitan. Di sana, masing-masing dari kami diberikan amplop dimana di dalamnya terdapat keputusan apakah kami dinyatakan lulus atau tidak. Ternyata aku lulus. Sungguh sebuah hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Kini aku harus mempersiapkan diri karena kami harus berangkat ke Magelang dan mengikuti tes terakhir di sana yang akan menentukan apakah aku harus kembali ke Jakarta atau melanjutkan sekolahku di Magelang.
Pada malam sebelum hari kami berangkat, aparat dari kepolisian dan militer mengecek kesiapanku di rumah sebelum berangkat. Hal itu menunjukkan betapa seriusnya perhatian mereka terhadap calon siswa SMU Taruna Nusantara.
Keesokan harinya, menggunakan dua buah bis, kami berangkat bersama menuju ke Magelang. Setiap dari kami membawa anggota keluarga kami masing-masing. Bapak dan Ibu turut menemani aku sampai ke Magelang.
Di Magelang, kami mengulangi tes sebagaimana yang kami jalani sebelumnya di Jakarta. Mulai dari tes akademis, fisik dan kesehatan. Di sana pula kami berkenalan dengan abang dan kakak yang memandu kami dalam kehidupan kami sehari-hari di sana. Dan ternyata Tuhan telah menakdirkan bahwa aku diperkenankan untuk bersekolah di SMU Taruna Nusantara Magelang, terpilih menjadi bagian dari 32 pelajar dari 4.000 pelajar yang mendaftar di Jakarta dan terpilih menjadi bagian dari 300-an pelajar dari 15.000 pelajar yang mendaftar di seluruh Indonesia.
Pada awal aku masuk di SMU Taruna Nusantara, yang kurasakan sungguh sangat berat. Jujur saja, selama di SMP aku belajar seperti tidak belajar. Hanya mengandalkan konsentrasi pada saat pelajaran di kelas dan mengerjakan PR di rumah, itu sudah cukup untuk menjadikan aku yang terbaik di SMP-ku. Tapi cara belajar demikian tidak berlaku di SMU ini. Nilaiku sangat turun dan aku harus mengikuti HER (ujian ulangan) dikarenakan nilaiku yang berada di bawah 6, dan tidak satu mata pelajaran lagi.
Biasa menjadi yang terbaik, kini harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kondisi sekolah asrama yang kesehariannya tidak hanya diisi dengan belajar, namun dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan fisik lainnya, sungguh merupakan ujian yang berat bagiku. Aku pun sempat mengalami hari-hari dimana aku cukup mengalami depresi dan stres, walaupun itu semua teralihkan dengan latihan fisik setiap hari yang cukup berat.
Pada suatu kesempatan, kucurahkan kesedihanku ini melalui surat kepada keluargaku di Jakarta. Mbak Lala turut membalasnya dan memberikan sebuah nasihat yang sangat baik, yang selalu kuingat sampai saat ini.
“Andit, apabila kamu tidak bisa menjadi yang terbaik di dalam pelajaran, mungkin kamu bisa menjadi yang ter- di bidang yang lain.”
Barulah aku memahami bahwa sesungguhnya dalam memberikan dan melakukan yang terbaik tidak harus dalam hal akademik, tapi bisa juga melalui hal yang lain. Barulah kemudian aku lebih memusatkan konsentrasiku pada bidang organisasi dan olahraga.
Sungguh tiga tahun berada di sekolah asrama yang cukup ketat dengan pendidikan semi-militernya, kemudian hidup bersama dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang suku bangsa, agama, ras dan bahasa membuatku belajar banyak hal. Tiga tahun terasa singkat, namun ilmu dan pelajaran kehidupan yang kuperoleh sangat luar biasa.
Di sanalah aku banyak belajar tentang pentingnya menghargai perbedaan dimana hal itu sungguh sangat tidak dapat terhindarkan. Perbedaan yang menjadi sebuah keniscayaan harus dapat dimanfaatkan dan diorganisir sedemikian rupa agar menjadi kebaikan yang optimal untuk kebaikan bersama. Di antara kami terjadi hubungan persaudaraan yang saling mengisi, saling melindungi dan saling menyayangi. Walaupun terkadang perselisihan-perselisihan kecil di antara kami tetap tak terhindarkan, namun hal itu dapat segera diselesaikan mengingat adanya kepentingan bersama yang lebih besar yang harus lebih diutamakan. Kebersamaan dalam suka dan duka membuat ikatan yang terjalin di antara kami lebih dari pada teman biasa, tapi saudara sebangsa dan setanah air yang sesungguhnya.
Mengikuti Ajaran Salamullah dari Jauh
Selama tiga tahun menempuh pendidikan itulah aku pun juga mulai mendengar mengenai kegiatan-kegiatan Bunda yang berjalan di Jakarta yang dikenal dengan ajaran Salamullah. Kebetulan ibu dan kakakku cukup aktif mengikuti setiap kegiatan yang diadakan di Salamullah. Tapi seperti biasa, aku pun juga tidak terlalu peduli. Selain saat itu aku sedang berjauhan dari kota Jakarta, hal-hal yang berbau kegaiban memang tidak menarik minatku.
Entah kenapa, aku tidak berminat untuk terlibat di dalam kegiatan keagamaan maupun politik sederhana di sekolah dengan lebih mendalam. Aku tidak pernah merasa tertarik bila teman-teman Muslim di kampusku berkumpul di mesjid untuk mendiskusikan satu-dua orang teman kami yang berpindah agama menjadi agama lain atau bila mereka sangat bersemangat untuk mengarahkan kepada teman-teman yang beragama Islam untuk memilih Ketua OSIS yang satu agama. Pokoknya, hal-hal politik yang melibatkan agama tidak pernah menarik perhatianku. Aku adalah orang yang biasa-biasa saja dalam beragama, tapi aku tidak pernah merasa nyaman bila satu golongan merasa lebih baik dan kemudian merendahkan golongan yang lain.
Walaupun demikian, aku tetap tertarik untuk memonitor kegiatan ibu dan kakakku di Salamullah. Entah mengapa, bukan hanya sekedar memonitor, tapi aku pun ingin ikut dalam setiap program-program yang sedang mereka laksanakan di Jakarta. Seperti puasa sekitar 40 hari yang mana aku tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi aku yakin pasti bertujuan baik karena tujuannya adalah untuk kebaikan dan keselamatan bangsa.
Tidak hanya itu, setelah buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir (PAMST) selesai kubaca dimana di dalamnya terdapat nubuah banjir besar yang akan terjadi pada Bulan Agustus 1998, entah mengapa aku begitu mengimaninya dan kuwujudkan dengan mengajukannya dalam rencana kegiatan OSIS yaitu dengan mendirikan posko banjir. Tentu saja usulanku itu tidak ditanggapi serius, apalagi mereka mengetahui aku mendapatkan kabar itu dari ramalan.
Jadi, walaupun jarak itu jauh dan aku tidak berminat untuk belajar agama terlalu dalam, tapi imanku terhadap Salamullah tidak dapat kupungkiri. Entah mengapa aku begitu mengimaninya.
Satu Tahun di Institut Pertanian Bogor
Lulus SMU, aku diterima di IPB pada jurusan Agronomi. Agronomi menjadi pilihan pertamaku dalam UMPTN karena aku bercita-cita ingin menjadi petani. Aku terkenang atas perkataan seorang guruku di SMU yang mengatakan bahwa bila ingin memberikan pelajaran, perut itu harus kenyang dulu. Konsentrasi tidak akan fokus bila perut lapar. Begitu juga negara ini. Bila urusan perut sudah terpenuhi, maka akan lebih mudah untuk mengurusi urusan yang lainnya.
Tempat tinggalku di daerah Jakarta Selatan dan kampus di Bogor membuatku harus bolak-balik naik KRL (kereta api listrik). Kebetulan kampusku di Baranangsiang berdekatan dengan stasiun Bogor, sehingga aku merasa tidak perlu kost untuk menghemat biaya. Walaupun terkadang merasa lelah karena pergi pagi pulang sore, tapi aku sangat menikmatinya. Lagipula, jalur perjalanan yang selalu berlawanan dengan arus berangkat atau balik orang-orang yang bekerja membuat aku tidak perlu berdesak-desakan di dalam kereta.
Pada saat itu, kaum Salamullah sedang memusatkan kegiatannya di Dusun Coblong, Kecamatan Megamendung, Bogor. Kakakku, Mbak Lala, yang sudah mengabdikan dirinya secara total di Salamullah tinggal bersama suaminya, Mas Aar, di sebuah rumah sekitar Vila Zaitun yang disewakan oleh warga.
Saat itu, kakakku sedang hamil besar anak pertamanya, maka kakakku memintaku untuk tinggal bersamanya untuk menemaninya. Karena pada hari-hari biasa, Mas Aar pergi ke Jakarta untuk bekerja. Dari sanalah kemudian aku mulai mengikuti kegiatan-kegiatan kaum Salamullah di Villa Zaitun. Mulai dari mencangkul tanah untuk menanam berbagai tanaman sampai mengikuti berbagai upacara yang diadakan di sana.
Entah mengapa, hatiku merasa nyaman berada di sekitar kaum Salamullah. Aku merasa tidak boleh tertinggal sedikit pun pada acara-acara penting maupun pada saat turunnya sapaan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Pada waktu itu, aku masih belum sepenuhnya percaya bahwa yang turun adalah Malaikat Jibril. Namun hatiku selalu ingin berada bersama Bunda dan kaum Salamullah. Walaupun demikian, aku tetap melanjutkan kuliahku di IPB.
Mulai Meninggalkan Kuliah
Suatu pagi, aku harus segera berangkat ke kampus karena ada ujian yang akan menentukan nilai IP (indeks prestasi)-ku di semester kedua. Pada hari itu pula, turun Wahyu Tuhan di pagi hari yang mana belum kunjung selesai sampai pada waktu di mana aku harus segera berangkat.
Jarak dari Coblong menuju kampusku kurang lebih 45 menit yang harus kutempuh dengan naik dua kali angkot. Akhirnya kuputuskan untuk tetap mendengarkan Wahyu Tuhan. Entah mengapa, sungguh aku akan merasa bersalah bila aku meninggalkan Wahyu Tuhan yang sedang turun pada saat itu. Karena setelah Wahyu Tuhan selesai aku sudah terlambat menuju kampus, kuputuskan saja sekalian hari ini aku tidak ke kampus membantu kaum Salamullah mempersiapkan risalah yang akan disebarkan ke masyarakat.
Itulah awal pergulatanku dalam memilih kebenaran yang kusaksikan dan kurasakan. Ketika aku mendatangi pengurus kampus untuk mengurus HER (ulangan susulan) karena satu hari itu aku tidak masuk dan meninggalkan ujian, petugas menanyakan apa alasannya aku tidak masuk. Kujawab bahwa saat itu aku membantu kaum Salamullah dalam mempersiapkan sebuah risalah yang akan disebarkan ke masyarakat. Tentu saja mereka tidak melayakkan izinku karena apa-apa yang aku ucapkan tidak masuk akal. Akhirnya kuserahkan saja risalah-risalah yang sedang kukerjakan beserta surat izin yang ditulis kakak iparku.
Aku sudah pasrah. Aku tidak menyesal dengan apa yang kupilih. Namun urusanku dengan kampusku ternyata tidak selesai sampai di situ. Keesokan harinya, aku dipanggil oleh petugas kampus untuk menghadap di ruang dosen.
Di dalam ruang dosen, telah duduk empat dosen yang memintaku untuk menjelaskan mengenai keyakinan yang kutempuh. Karena mereka tidak dapat mengeluarkan izin itu disebabkan ajaran yang kuyakini merupakan ajaran yang dianggap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia.
Pada saat itu, ilmuku tentang agama maupun ajaran-ajaran Malaikat Jibril di Salamullah masih sangat minim. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari para dosen yang sangat teologis itu, aku hanya bisa menjawab sekenanya dan semampunya. Dan niscaya penjelasan-penjelasanku itu tidak memadai dan mereka tetap menganggap aku telah salah jalan mengikuti sebuah aliran yang dianggap sesat.
(Sungguh, bila aku bisa memutar waktu kembali, aku ingin saling berbagi ilmu pengetahuan yang sekarang kumiliki dengan mereka… )
Melihat Pembunuhan di Masjid
Suatu ketika, seperti biasa bila sudah waktunya untuk sholat Zuhur, aku menyempatkan diri untuk datang ke masjid yang ada di dekat kampusku. Sewaktu aku berjalan ke sana, langkahku didahului oleh dua orang yang berjalan lebih cepat. Keduanya adalah laki-laki di mana yang satu berpakaian gamis ala Laskar Jihad (di daerah Bogor, khususnya di pinggir jalan dekat terminal bus Baranangsiang, terdapat beberapa orang yang memakai baju gamis ala Laskar Jihad yang meminta sumbangan kepada para pemakai jalan), yang satunya memakai pakaian biasa.
Kedua orang itu menemui dua orang lainnya yang juga memakai baju gamis yang sudah duduk di teras masjid. Karena masjid adalah tempat ibadah dan bagiku mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, aku pikir mereka akan menjalankan ibadah sebagaimana yang akan aku lakukan. Maka aku tidak memperhatikan mereka dan langsung menuju sisi masjid yang lain.
Saat itu keadaan masjid masih sepi. Aku memang datang lebih awal dari biasanya. Hanya terlihat satu-dua orang di sana. Tiba-tiba kudengar suara ribut-ribu dari sisi masjid tempat orang-orang yang kujumpai tadi berkumpul. Tak lama kemudian di depan mataku, kulihat pemuda yang berpakaian biasa sedang dikejar oleh beberapa orang lainnya yang menggunakan baju gamis. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan parangnya dan menebaskan ke arah pemuda berpakaian biasa tersebut sambil meneriakkan ‘Allahu akbar’.
Serangan pertama dapat ditangkisnya dengan tangan, namun tusukan yang kedua langsung menghunjam ke arah perut. Pemuda berbaju biasa itu tidak tewas di tempat, tapi dia sempat berlari ke arah tempat parkir sambil dikejar oleh orang-orang yang memakai baju gamis itu.
Sungguh peristiwa yang terjadi sangat cepat. Aku pun merasa seperti bermimpi melihat adegan yang biasanya hanya ada di film-film laga di televisi.
Tak lama setelah peristiwa berdarah itu terjadi, orang-orang yang berbaju gamis itu kembali berbalik ke arah masjid dengan terburu-buru. Mereka lewat di hadapanku, namun aku tidak memperhatikan wajah mereka. Yang pasti mereka sangat tegang dan ingin segera pergi dari lingkungan masjid. Lalu mereka pergi melewati jalan belakang masjid dan menghilang dari pandangan.
Tak lama kemudian, teman-teman satu jurusanku datang. Dikabarkan bahwa pemuda yang berbaju biasa itu telah tewas di tempat parkir. Tak lama setelah itu, datang pula aparat kepolisian yang sepertinya mencari pelaku pembunuhan tersebut. Aku diam seribu bahasa. Aku tidak mau terlibat urusan apapun.
Satu hal yang membuat identitasku dapat dengan mudah dikenali, saat itu sedang dalam keadaan gundul plontos karena baru saja mengikuti prosesi pensucian dengan api dimana seluruh tubuh kami disulut api dengan spiritus di Coblong.
Aku pun tidak ambil pusing mengenai siapa pelakunya. Karena siapapun bisa menggunakan baju gamis ala Laskar Jihad itu dan melakukan tindakan yang tidak baik. Aku tidak ingin berprasangka. Namun teriakan takbir yang diteriakkan orang yang membawa parang itu membuat hatiku gemas melihat umat Islam yang berani melakukan tindakan keji di lingkungan rumah ibadahnya sendiri.
Hari itu aku pulang ke Vila Zaitun dengan keadaan tak menentu. Di dalam angkot, aku berpikir apakah aku saat itu sedang bermimpi atau tidak, melihat sebuah hal yang mengerikan yaitu pembunuhan yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
Di semester kedua ini, ada dua orang baru yang masuk ke dalam jurusanku. Mereka adalah kakak kelas jurusan yang memilih untuk menunda kuliahnya selama setahun untuk mengikuti perjuangan dengan Laskar Jihad di daerah konflik. Kini mereka telah kembali dari daerah konflik tersebut untuk melanjutkan kuliahnya.
Tidak hanya belajar, mereka pun juga mendakwahkan keyakinannya. Pada suatu kelas, di saat dosen yang mengajar belum datang, salah seorang di antara mereka pernah berdiri di depan kelas untuk mendakwahkan apa-apa yang diyakininya. Ia mengajak teman-teman satu kelasku untuk turut berjuang membela umat Islam di daerah-daerah konflik, walaupun di dalam kelasku pada saat itu terdiri bukan hanya orang-orang yang beragama Islam saja.
Keesokan harinya setelah peristiwa pembunuhan itu, setelah pelajaran pertama selesai, aku didatangi oleh kedua temanku yang mengaku anggota Laskar Jihad itu. Salah seorang di antara mereka langsung menanyakan apa saja yang aku lihat, dengan nada sedikit menekan. Aku menceritakan apa yang aku lihat, tahapan-tahapan peristiwanya, namun kuakui aku tidak mengenal mereka dan tidak memperhatikan wajahnya.
Setelah mendengar keteranganku, sepertinya mereka menganggap aku tidak terlalu berbahaya sebagai saksi peristiwa tersebut. Seorang di antara meninggalkan aku, seorang lagi langsung duduk di sampingku dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menceritakan bahwa orang yang melakukan pembunuhan itu adalah temannya yang baru kembali dari daerah konflik. Ia terlibat percekcokan dengan preman terminal setempat soal lahan tempat mereka biasa meminta sumbangan. Karena tidak dapat menjaga emosi, maka terjadilah peristiwa tersebut. Kini orang yang melakukan pembunuhan tersebut dikabarkan menyesali perbuatannya dan kini ia telah kembali ke daerah konflik untuk melanjutkan jihadnya.
Mendengar kisah itu, setidaknya aku menjadi tahu bahwa yang melakukan perbuatan itu benar-benar adalah seorang Muslim. Dan ia benar-benar tega melakukannya di lingkungan rumah ibadahnya sendiri.
Hatiku pun bergejolak merasakan kesedihan melihat kenyataan mengapa umat Islam sampai hati melakukan hal seperti itu. Keinginanku untuk memperjuangkan sebuah ajaran yang mengajarkan perdamaian pun mulai bangkit. Aku menginginkan berada di dalam sebuah ajaran yang membawakan kedamaian dan cinta kasih, bukan dengan kebengisan dan emosi yang dapat mencabut nyawa orang lain, apalagi di rumah-Nya, tempat orang-orang memanjatkan doa dan beribadah kepada-Nya.
Aku merasa menemukan ‘tempatku’ untuk berjuang bersama kaum Salamullah di bawah bimbingan Malaikat Jibril yang semakin lama semakin kuyakini. Dengan mata dan hatiku, aku melihat betapa Bunda dan kaum Salamullah menjalani pensucian oleh Malaikat Jibril, betapa Malaikat Jibril mengajarkan untuk menyebarkan ajaran agama apapun dengan penuh kedamaian dan cinta kasih kepada semua umat dari agama apapun dan menghargai keyakinan mereka.
Merasakan Santet untuk Pertama Kalinya
Santet, pelet, susuk dan apapun hal-hal mistik yang berkaitan dengan dunia perdukunan memang sudah sering kudengar, namun hal itu kuanggap sebagai sebuah hal yang tidak realistis. Hanya permainan sugesti yang terlalu dalam sehingga berefek kepada kesehatan fisik.
Suatu siang, ketika sedang beristirahat menjelang makan siang, aku terduduk di pintu dan mataku memandang ke arah Gunung Salak. Langit begitu cerah sehingga aku dapat memperhatikan detil pepohonan yang terdapat di gunung tersebut.
Tiba-tiba kepalaku pusing, pusing yang benar-benar tak tertahan. Dengan langkah gontai, aku menuju tempat kost Mbak Lala dan merebahkan diriku di sana. Namun aku tidak dapat memejamkan mataku. Badanku berkeringat dan aku merasa kedinginan. Kemudian datang Mas Aar dan ibuku ke tempat kost dan mendapatiku sedang berbaring seperti orang yang sedang sakit. Aku pun diterapi, tapi rasa sakit itu tidak kunjung reda.
Malam hari tiba. Rasa gelisah di tubuhku masih belum berakhir. Lalu aku diajak untuk menemui Bunda pada saat makan malam. Oleh Bunda, kepalaku digaruk-garuk dengan keras yang kemudian dengan kukunya seperti mencabut sesuatu dari kepalaku. Jangan tanya sakitnya. Sudah jelas sakit, tapi tidak terlalu terasa karena bersamaan dengan rasa sakit dan gelisah di seluruh tubuhku.
Setelah diterapi demikian, aku beristirahat. Akhirnya aku bisa tidur sampai pagi hari tiba, namun rasa gelisah di badanku masih terasa berat. Pada pagi harinya, Bunda kembali memanggilku untuk diterapi. Kali ini dengan kompres panas pada bagian dada dan perut. Setelah itu perutku ditekan dengan kerasnya. Bunda pun mengatakan bahwa yang kurasakan saat itu adalah serangan santet. Dan kini tulah santet itu telah berbalik kepada pengirimnya setelah tubuhku diterapi.
Percaya atau tidak, rasa sakit dan gelisah yang mendera tubuhku seharian kemarin kini betul-betul hilang. Aku sudah dapat bernafas lega dan perutku mulai terasa lapar. Setelah aku diterapi, Malaikat Jibril langsung menyapa dan menjelaskan perihal serangan metafisis yang menyerangku.
Disabdakan bahwa serangan itu disampaikan oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan di mesjid itu. Mereka hendak membunuhku dengan santet, atau paling tidak merusak daya pikirku sehingga aku tidak dapat bersaksi atas pembunuhan itu. Mendengar hal itu, aku sungguh-sungguh bersyukur atas Perlindungan Tuhan kepadaku. Dan dari peristiwa itulah aku mengetahui dan menyadari bahwa serangan metafisis itu sungguh nyata dan dapat menyerang siapapun.
Pertemuan di Kecamatan Megamendung dan Serbuan Massa ke Villa Zaitun
Beberapa hari sebelum pertemuan, Villa Zaitun beberapa kali kedatangan aparat maupun perwakilan masyarakat desa yang membawakan kabar bahwa masyarakat sekitar tidak setuju dengan kegiatan kaum Salamullah di daerah itu. Bahkan mereka membawa surat yang terlampir tanda tangan warga dimana tidak ada warga sekitar Villa Zaitun yang menandatanganinya. Percaya atau tidak, jumlah tanda tangan yang terlihat direkayasa tersebut berjumlah 665 buah, ditambah satu tanda tangan dari pihak Kecamatan menjadi genap 666 tanda tangan.
Di antara surat-surat yang datang, terdapat juga surat yang meminta agar perwakilan kaum Salamullah menghadiri pertemuan di Kecamatan Megamendung yang mempertemukan kami dengan warga, aparat dan ulama-ulama setempat.
Pagi itu menjadi sebuah pagi yang penting bagiku karena sejak hari itulah aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku. Sebelum acara dimulai, aku mengumpulkan berkas-berkas dan hasil percobaan biologi dimana aku dipercaya untuk mengurusinya. Segera aku menaiki angkot menuju kampus untuk menyerahkannya kepada salah seorang teman satu kelompokku dan langsung kembali lagi ke Villa Zaitun. Hari itulah hari terakhir aku datang ke kampusku di IPB.
Sekembalinya ke Villa Zaitun, kami langsung bersiap-siap dan mengikuti sholat amanatuhu bersama-sama. Setelah sholat, berombongan kami mendatangi Kecamatan Megamendung untuk memenuhi undangan rapat tersebut.
Pertemuan di Kecamatan Megamendung tidak menemukan titik temu. Ulama yang menyesatkan ajaran Salamullah, Camat yang tidak mau bertanggung jawab apabila ada pihak yang menyerbu dan kekukuhan kaum Salamullah untuk tidak meninggalkan Villa Zaitun membuat pertemuan hari itu selesai tanpa adanya kesepakatan apapun. Tentunya kekukuhan kaum Salamullah itu dikarenakan perintah Malaikat Jibril untuk tidak meninggalkan Villa Zaitun apapun yang terjadi karena kaum Salamullah tidak melanggar hukum dan harus memperjuangkan kebenarannya.
Hari menjelang siang, kaum Salamullah masih tetap berkumpul di Mahoni sambil memberikan keterangan kepada para wartawan yang telah hadir untuk meliput peristiwa baik di Kecamatan Megamendung maupun di Coblong. Bunda sendiri sudah turun ke Jakarta pagi itu, sementara kami tetap bertahan.
Sore harinya, perintah itu berubah. Malaikat Jibril meminta kami untuk segera berkemas-kemas dan mengevakuasi barang-barang. Maka dikemaslah seluruh barang yang bisa dibawa turun ke Jakarta.
Sebetulnya aku sudah turun ke Jakarta karena semua barang-barang yang diturunkan dari Coblong dibagi ke tiga tempat, yaitu ke Mahoni, Jatiwaringin dan Jatipadang. Aku ikut rombongan ke Mahoni. Betapa berantakan dan hiruk-pikuknya rumah di Mahoni saat itu. Namun karena aku ingin membantu kembali mengangkat barang-barang yang masih tertinggal di Villa Zaitun, aku kembali ikut dengan rombongan yang akan mengambil barang-barang terakhir. Ternyata itulah saat dimana warga mulai datang dan merusakkan apa saja yang ada di hadapannya.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana massa mulai menghancurkan kaca, merubuhkan pagar pembatas dan membakar gudang yang kami gunakan untuk menyimpan persediaan makanan. Sungguh hatiku sedih melihat mereka-mereka yang menyerang kebanyakan terdiri dari anak-anak remaja yang terlihat tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan. Mereka hanya mengikuti komando beberapa orang di antara mereka yang memang terlihat lebih garang sambil membentak-bentak dan berteriak menantang Malaikat Jibril.
Tetangga sekitar yang baik terhadap kami pun langsung menyelamatkan beberapa di antara kaum Salamullah yang masih tertinggal untuk bersembunyi di rumahnya. Dari sebuah jendela kaca yang kecil, aku dapat melihat asap hitam yang membumbung dari Villa Zaitun.
Hujan deras tiba-tiba turun. Massa pun membubarkan diri dengan sendirinya. Barulah aparat kecamatan datang ‘menyelamatkan’ kami. Kami dibawa ke Kecamatan Megamendung dan disambut oleh Bapak Camat. Beberapa wartawan pun juga hadir di sana. Kami hanya menunggu kaum Salamullah dari Jakarta datang menjemput.
Setibanya di Jakarta, rumah Mahoni pun juga tidak luput dari ancaman. Maka kami pun kembali bergerak ke Mahoni untuk mempertahankan rumah tersebut. Kami menumpuk kayu bakar di depan rumah untuk membuat barikade api apabila massa yang beringas itu datang.
Tetangga pun dihebohkan. Mereka berkumpul di depan rumah dan merasa heran dengan apa yang kami lakukan. Kesempatan itu digunakan oleh kaum Salamullah wanita untuk mendatangi para tetangga dan menunjukkan foto-foto hasil pengrusakan warga di Villa Zaitun. Dari sanalah mereka mengerti apa yang sedang kami lakukan. Mereka pun juga tidak mau terjadi apa-apa dengan rumah Mahoni apalagi bila sampai dibakar karena niscaya akan merembet ke daerah sekitarnya.
Ayat Al Quran yang Menentukan
Pada saat di Mahoni itulah, di sebuah sore yang cukup tenang di antara hiruk-pikuk persiapan mempertahankan rumah, setelah sholat Ashar aku membuka kitab suci Al Quran. Aku bertanya kepada Tuhan bagaimana dengan kuliah dan masa depanku. Apakah aku harus melanjutkan kuliah yang kujalani bersama-sama dengan Salamullah atau kulepas saja untuk mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk Tuhan di Salamullah atau aku akan melanjutkan kuliahku. Karena hati kecilku tahu bahwa bila aku memilih dua-duanya, aku tidak akan mendapatkan dua-duanya. Dan mengenai kuliah, aku masih mempunyai kesempatan dengan mengulangnya tahun depan.
Dan terbukalah Surat Al Israa’ ayat 18 dan 19 :
18. “Barangsiapa menginginkan kehidupan yang sekarang, akan Kami segerakan baginya di dunia apa-apa yang Kami kehendaki, kemudian Kami tentukan baginya jahanam yang akan dimasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
19. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha untuk itu dengan sungguh-sungguh dan dia mukmin, maka mereka itulah yang usahanya disyukuri.”
Itulah sebuah jawaban yang membuka hatiku untuk memilih mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk Tuhan. Kulepaskan kuliahku walaupun harus menuai kontroversi dari Bapak dan teman-temanku yang tergabung di dalam milis alumni SMU Taruna Nusantara.
Tapi inilah jalan yang kupilih. Inilah kesaksianku atas kebahagiaan spiritual yang kualami. Setiap pilihan niscaya ada risikonya. Namun ketika itu dijalani dengan kebahagiaan, niscaya yang ada adalah kenikmatan di dalam kejujuran bersaksi atas apa-apa yang telah Tuhan tunjukkan kepadaku.
Semoga Tuhan senantiasa menjagaku di dalam meniti hari-hariku bersama-Nya. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini dapat memahami mengapa aku menetapkan seluruh jiwa dan ragaku untuk berada di dalam takdir ini. Amin.
Sementara itu, peristiwa di Mahoni berakhir dengan baik. Walaupun terjadi sedikit kesalahpahaman dan warga sempat menggoyang-goyangkan pagar untuk meluapkan emosinya kepada kami, pada akhirnya warga membubarkan diri dan kami pun dapat melanjutkan aktifitas sebagaimana biasa.
Sungguh hanya Tuhan-lah yang telah menjaga kami semua dari segala kesulitan yang lebih buruk lagi. Dan segala kehancuran yang terjadi niscaya merupakan sebuah hal yang telah digariskan-Nya untuk menunjukkan kepada dunia betapa fatwa sesat dan menyesatkan dari Majelis Ulama Indonesia telah sampai mengakibatkan perusakan Villa Zaitun di Coblong, Megamendung.

Agustus 16, 2008 at 3:06 am
Ass. Mas aku prìatin dg sampeyan. Penemuan2 thd jibril. Dll bkn hanya pd tante lia jd jg terjadi pd yg lain. jd standart kt HRS di luruskan . Alqur’an menyuruh kt beriman dg akal bukan perasaan. Tlng anda belajar terus! Dg ulama bkn dg lia aja. Niscaya Allah tdk akan biarkan jalan anda hanya atas perasaan saja. Smoga hidayah yg hakiki sampai pd anda. Trims
Agustus 17, 2008 at 5:04 am
Salam Eden
Terima kasih atas komentar Anda di blog saya ini. Dan saya berterima kasih atas masukan dan himbauan yang Anda sampaikan kepada saya.
Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa apa yang menjadi tujuan utama pencarian saya bukanlah kepada sosok Jibril semata, namun lebih kepada pencarian jati diri atas apa yang menjadi tujuan hidup saya berada di dunia ini.
Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di dalam tulisan saya, saya mendambakan berada di dalam sebuah komunitas dimana kepercayaan dan ketulusan menjadi fondasi utamanya. Dan peristiwa pembunuhan di halaman mesjid dengan meneriakkan nama Tuhan seakan-akan telah membuka sebuah rasa di dalam hati untuk berjuang menyampaikan Ajaran-ajaran Tuhan dengan penuh kedamaian dan tanpa kekerasan di dalam semangat toleransi dan menghargai perbedaan keyakinan yang niscaya di dunia ini. Dan dalam perjalanannya, di luar dugaan saya bahwa ternyata saya kini berada di dalam takdir yang maha besar, yaitu berada di dalam Kerasulan Malaikat Jibril Ruhul Kudus di zaman ini.
Saya pun meyakini bahwa Tuhan dapat mengutus Malaikat Jibril Ruhul Kudus kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan niscaya setiap dari mereka yang disapa membawa misi dan amanatnya masing-masing di dalam Skenario Besar Tuhan yang maha tak terduga atas umat manusia. Namun sebagaimana saya menamakan blog saya ini, inilah ’sebuah pilihan’ yang saya tetapkan yaitu untuk mengabdi kepada Tuhan yang mengutus Malaikat Jibril Ruhul Kudus yang berada bersama Bunda Lia Eden di zaman ini.
Sungguh apa yang saya yakini niscaya bukanlah satu-satunya realitas kebenaran yang sedang dibentangkan Tuhan di semesta-Nya ini. Apa yang saya jalani di Eden hanyalah sebuah jalan yang saya imani sebagai salah satu Kehendak Tuhan untuk membawakan pertolongan dan jalan keselamatan bagi umat manusia. Dan semua kembali kepada Tuhan dan pilihan setiap hamba-hamba-Nya atas apa-apa yang telah diturunkan-Nya.
Sekali lagi terima kasih banyak atas himbauan dan perhatian Anda. Tuhan memberkati.
Salam Eden
Agustus 20, 2008 at 2:23 pm
Wahyu,
aku tersentuh dengan apa yang kamu ceritakan di sini. Aku pahami tujuanmu yang mulia dan berani walaupun kamu berada di lingkungan yang mayoritas tidak “menghormati” pilihan kamu. Aku percaya bahwa kita sebagai manusia mengambil pelajaran dan membuat pemahaman dari experience kita. Dari pemahaman itulah timbul keyakinan. Aku melihat keyakinan yang kamu miliki mampu membangun society yang beradab dan bukan justru merusaknya. Oleh karena itu, I really appreciate it dan mengucapkan terima kasih sebagai seorang insan karena kamu berusaha membuat our society a better place to live. Thank you for being in front there.
You are brave, my brother. I admire your heart and belief yang kamu percayai dengan alasan2 yang kamu alami. Bukan semata2 karena unreasonable belief.
Semoga dengan sepetik pesanku ini kamu bisa tahu bahwa ada paling enggak seseorang yang tersentuh dengan apa yang kamu lakukan.
Agustus 21, 2008 at 2:37 am
Salam, Made.
Terima kasih atas komentar kamu di blog aku.
Tidak ada yang lain yang ingin kubagi kepada dunia, terkhusus orang-orang yang pernah mengenalku di dalam komunitas yang sebelumnya, mengenai apa-apa yang akhirnya kupilih dan alasan yang melatarbelakanginya. Karena aku percaya bahwa semuskil apa pun pilihan hidup kita di mata masyarakat umum, namun tetaplah semua itu harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara langsung kepada lingkungan dan masyarakat, dan terpenting kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan untuk itulah blog ini kuhadirkan.
Dan sungguh, apa yang kamu sampaikan di blogku ini juga membuatku tersentuh atas secercah perhatian di antara sederet tudingan dan curiga yang ditujukan kepadaku dan Eden secara umumnya.
Semoga Tuhan memberkati kita semua di dalam apa pun jalan yang kita pilih atas cinta dan kasih kita kepada-Nya. Amin.
Salam
Agustus 26, 2008 at 12:11 pm
Dear My friend and My Brother,
Ada satu Nasihat yang diberikan oleh Sensei Aikido g, bahwa jika engkau merasa bingung dan resah akan kemana iman dan keyakinanmu, maka mintalah kepada Dia yang menciptakan kamu untuk menunjukan yang terbaik dan yang hanya diridhoi-Nya. Tapi hati-hati,janganlah kamu tanyakan kepada Tuhan yang sesungguhnya tidak sanggup kamu dengar.Tak usah kau tempuh jalan ini karena itu bukan jalanmu.
dan ketahuilah sesungguhnya keesaan Allah itu tersembunyi dari menara logikamu. singkirkan keraguanmu. Pengetahuan tentang keesaan Allah sesugguhnya berbahaya dan yang mencari mudah sekali tersesat.
kalo boleh sharing ni To, Sensei g ngasi g 3 pertanyaan untuk direnungkan semoga bermanfaat:
1. Siapakah aku sebelum diciptakan?
2. untuk apa aku diciptakan?
3. mau kemana setelah diciptakan?
salam jabat erat,
leo 97.1853
Agustus 26, 2008 at 3:50 pm
Salam, Bung Leo. Senang mendapatkan tanggapan dari Anda. Terima kasih sudah berkomentar di blog saya.
Puji syukur kepada Tuhan bahwa pencarianku terhadap Tuhan tidaklah membutuhkan waktu yang lama. Saat alam bawah sadarku tergugah untuk mengabdi kepada ajaran Tuhan yang penuh damai setelah melihat peristiwa pembunuhan di halaman mesjid IPB, ternyata saat itu aku sudah berada di dalam sebuah takdir besar yang sedang dihadirkan-Nya di negeri ini. Sungguh sudah bulat keyakinan dan imanku atas prakarsa nyata Tuhan yang sedang mengejawantah di Eden. Walaupun masih dianggap sesat dan aneh oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, namun kebenaran itu tak dapat kusangsikan karena aku menyaksikan dan menjalaninya secara langsung dari dekat.
Oleh karena itu, saat ini aku sudah tidak bingung lagi akan imanku. Niscaya Tuhan menebar Rahmat dan Jalan-Nya kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini dengan berbagai macam bentuk dan cara, namun aku telah menjatuhkan pilihanku untuk beriman secara total di Eden.
Terima kasih, Bung Leo, atas pertanyaan dari sensei Anda untuk saya renungkan. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut telah terjawab di dalam pengajaran-pengajaran di Eden melalui teori regulasi ruh/reinkarnasi. Sungguh terpulang kepada Tuhan segala ilmu dan rahasia tentang kegaiban dan alam ruh. Namun di Eden, melalui pengajaran regulasi ruh, Ruhul Kudus menuntunkan sebuah logika yang sangat rasional sebagai bagian dari sistem Keadilan Tuhan terhadap seluruh makhluk-Nya.
Bahwa diri kita sebagai manusia yang tercipta merupakan manivestasi atas apa yang dilakukan oleh diri kita di dalam kehidupan yang sebelumnya. Untuk apa kita diciptakan, adalah untuk memperbanyak amal baik dan menjauhi segala kemudaratan agar di dalam kehidupan selanjutnya setelah kita meninggal, ruh kita akan dibangkitkan kembali menjadi manusia yang lebih baik, bahkan dapat menyatu bersama Kehendak-Nya sebagai cahaya/malaikat. Sebaliknya, keburukan yang diakibatkan, bila hitungannya melebihi kebaikan yang pernah diperbuat, dapat menyebabkan kita menjadi manusia yang bernasib malang maupun mengalami perubahan kodrat menjadi makhluk yang lebih rendah sebagaimana binatang bahkan jin maupun iblis.
Demikian jawaban yang saya peroleh atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Mungkin Bung Leo memiliki jawaban tersendiri, dengan senang hati saya ingin mengetahuinya demi pencerahan kita bersama.
Sekali lagi terima kasih banyak, Bung Leo, atas komentar Anda. Sungguh membahagiakan mendapatkan perhatian dari seorang kawan lama yang lama tak bersua. Salam hormat untuk seluruh keluarga dan sensei Anda bila masih bertemu tentunya. Tuhan memberkati.
Salam
Oktober 12, 2008 at 5:05 am
Allahu akbar… Kita manusia adalah ciptaan Allah, tidak ada ajaran yang benar selain muslim…. Kalian boleh bilang kami keras tak berotak… namun dengan meneriakan “Allahu akbar” apapun tindakan kami dapat dianggap sebagai jihad dan senantiasa diridhoi oleh-Nya. Allahu akbar…Muhammad rasulullah… contoh citra jati kami. Allahu akbar…
Mungkin terlihat kejam dan tak berotak, namun itulah kebenaran dari rasul kami…keras, tegas…
Al-BAQARAH 190-191:
Bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai- mereka dan usirlah mereka dan tempat meneka telah mengusir kalian (Makkah). Fitnah (kekufuran/ kemusyrikan) itu leblh besar bahayanya daripada pembunuhan. Janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu. Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu) bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.
Dan hanya disorga kasih akan terasa, didunia ini kami adalah raja, bebas berank pinak dan menunjuk istri. Kebenaran pastilah menyenangkan, karena demikianlah nilai guna kami diciptakan… Dapat memiliki banyak anak dan istri, karena muslim menjadikan kami kaum raja yang diberkati Allah
Oktober 13, 2008 at 4:49 am
Salam
Terima kasih telah berkomentar di blog saya.
Sungguh saya sangat mengharapkan umat Muslim di dunia ini dapat mengejawantahkan ajaran Islam yang penuh damai dan toleran sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad sehingga dapat menghargai berbagai perbedaan yang menjadi Kehendak Tuhan di muka bumi ini. Karena tiadalah Tuhan menyukai kesombongan dan kezaliman. Dan niscaya hanya iblislah yang menyertai orang-orang yang sombong dan suka berlaku zalim.
Niscaya Tuhan memberkati orang-orang yang menebarkan cinta kasih dan perdamaian kepada sesamanya. Amin.
Salam